Agar Susu Tak Bikin Anak Kegemukan

Kompas.com - 24/08/2011, 15:45 WIB

KOMPAS.com - Susu dibutuhkan untuk semua tingkatan usia. Mulai anak-anak hingga manula. Perempuan hamil hingga ibu menyusui. Susu menjadi sumber protein dan kalsium, yang bisa melengkapi kebutuhan asupan nutrisi setiap harinya. Sayangnya, tak semua orang teredukasi dengan baik untuk memilih dan memilah susu dengan tepat. Terutama susu dengan gula tambahan berkadar tinggi, yang menyebabkan kegemukan.

Kontrol porsi
Anak-anak menjadi penderita utama dari ketidakpedulian orangtua dalam menyeleksi susu. Pasalnya, anak-anak paling banyak mengasup susu. Porsinya bisa mencapai 8-10 gelas per hari. Alasan kebutuhan gizi dan melengkapi kebutuhan asupan anak yang cenderung sulit makan, mendasari orangtua yang memberikan susu berlebihan kepada anak.

"Idealnya, anak mengonsumsi susu 2-3 porsi gelas per hari atau sekitar 200-300 cc per gelas. Makanan harian memang belum mencukupi kebutuhan pola gizi seimbang. Susu melengkapi kebutuhan gizi anak. Namun asupan susu juga perlu dikontrol, baik dari porsi mau pun pemilihan susu yang tepat sesuai usia, dan kandungan gula di dalam susu. Karenanya, penting untuk membaca label dalam susu secara mendetil," tutur Dr dr Saptawati Bardosono MSc, ahli gizi dari Departemen Nutrisi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saat talkshow dan media gathering diadakan Fonterra Brands Indonesia di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (23/8/2011) lalu.

Teliti baca label

Susu mengandung kebaikan yang dibutuhkan tubuh. Namun, pilihan susu turut menentukan manfaat yang didapatkan. Susu juga bisa menyebabkan kegemukan jika salah mengonsumsi, keliru dalam menyajikan, dan tak teliti membaca label yang berisi informasi jumlah asupan kalori dan kandungan gula tambahan.

"Gula tambahan dalam susu harus terinformasikan dengan jelas di label. Karenanya orangtua perlu peduli dan jeli membaca label pada susu untuk memastikan asupan gula dan kalori," ujar dr Tati.

Waspadai gula tambahan

Menurut National Academy of Sciences, Food & Nutrition Board, Amerika Serikat yang termasuk gula tambahan di antaranya gula putih, gula merah, sirup jagung, sirup maple, sirup pancake, madu. Segala jenis gula di luar laktosa dan gula dari buah termasuk gula tambahan. Sementara laktosa dan gula dari buah termasuk gula alami yang aman dikonsumsi.

Anda bisa menghitung kadar gula dalam susu dari label, dengan jeli memerhatikan jenis gula tambahan yang terkandung dalam susu.

"WHO menganjurkan asupan gula dari susu tidak boleh lebih dari 10 persen. Sedangkan saat ini, menurut Riset Asupan Gula 2011 dari FKUI, asupan gula pada anak dari susu mencapai 28 persen, melebihi dari anjuran WHO," jelas dr Tati, menambahkan asupan kalori yang berlebihan dari gula tambahan inilah yang menyebabkan kegemukan pada anak.

Kegemukan pada anak memicu berbagai penyakit kronis. Selain obesitas, anak juga bisa berisiko terkena penyakit degeneratif. "Penderita penyakit jantung kini usianya semakin muda, 29 tahun meninggal karena jantung," lanjutnya.

Riset Asupan Gula 2011 FKUI juga menyebutkan kegemukan pada anak Indonesia akibat berlebihan mengonsumsi susu dengan gula tambahan meningkat hingga 19 persen dari 12 persen. Angka ini melebihi tingkat kegemukan pada anak di Amerika Serikat yang mencapai 14 persen.

Perhatikan cara minum susu
Cara minum susu juga penting diperhatikan, agar anak terhindar dari masalah kegemukan akibat asupan gula tambahan pada susu yang berlebihan. Dr Tati menegaskan, utamanya perhatikan porsi minum susu setiap harinya.

Selepas ASI, lanjutnya, anak di atas 1 tahun mulai diperkenalkan susu sapi yang diencerkan sedikit demi sedikit. "Namun perlu juga waspada akan adanya diare atau alergi susu sapi. Karenanya berikan susu sesuai usia, kebutuhan anak, dan ikuti dosis yang dianjurkan," jelas dr Tati.

Untuk anak usia 1-3 tahun, berikan asupan susu total 500-750 ml perhari. Kebutuhan nutrisi lainnya harus dicukupi dari beraneka ragam makanan dan air putih. Selain itu, yang juga penting diperhatikan saat minum susu adalah memilih produk susu sesuai usia anak. Perhatikan juga kebersihan saat menyimpan, menyajikan, dan mengonsumsi susu untuk anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau