Pasar murah

Pakaian Bekas Kalahkan Bahan Pokok

Kompas.com - 24/08/2011, 18:42 WIB

MADIUN, KOMPAS.com — Ratusan warga berebut pakaian bekas di lokasi pasar murah bahan kebutuhan pokok yang digelar Pemerintah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, di Desa Gemarang, Kecamatan Gemarang.

Ratusan warga yang didominasi rumah tangga kurang mampu berdesakan di stan pakaian bekas sejak pagi. Tanpa dikomando, mereka tiba-tiba menyerbu lapak tempat dijajakannya pakaian bekas layak pakai. Padahal, saat itu acara pasar murah belum dimulai dan masih menunggu dibuka resmi oleh Bupati Madiun Muhtarom.

Akibat serbuan masyarakat, petugas jaga di stan pakaian bekas kewalahan. Apalagi warga juga mengambil pakaian bekas yang masih disimpan di dalam kardus. Setiap potong baju yang seharusnya dibeli dengan harga Rp 1.000 langsung diambil warga tanpa membayar. Setiap orang rata-rata mengambil lebih dari satu potong.

Retno, salah satu warga, sengaja mengantre di stan pakaian bekas karena takut tidak bisa memilih lebih awal. Akan tetapi, setelah di lokasi, ibu dua anak ini tidak hanya tidak bisa memilih, melainkan juga hampir tidak mendapat bagian.

"Saya sampai terjepit tadi waktu berdesakan. Mau bergerak saja susah, apalagi ngambil baju. Untung masih dapat dua bungkus, tapi ya ndak tau ini isinya belum dibuka," ujar Retno,  sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan seusai berdesakan.

Animo masyarakat untuk berebut pakaian bekas pantas pakai ini mengalahkan minat masyarakat untuk membeli bahan kebutuhan pokok yang ditawarkan di pasar murah. Pembelian kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, mi instan, kecap, dan gula, juga ramai, tetapi tidak sampai berdesakan dan berebut.

Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Madiun Komari mengatakan, pasar murah ini merupakan yang kedua digelar Pemkab Madiun selama bulan puasa. Sebelumnya, pasar murah diadakan di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan.

Pada pasar murah di Gemarang ataupun di Segulung, barang yang paling banyak diminati masyarakat adalah pakaian bekas pantas pakai yang dijual Rp 1.000 per potong. Selain baju bekas, beras, gula dan minyak goreng juga banyak dibeli masyarakat dari kalangan menengah ke bawah ini.

Kegiatan pasar murah ini diikuti oleh seluruh satuan kerja, badan usaha milik daerah (BUMD), dan BUMN, seperti Perum Perhutani Saradan.

Harga yang ditawarkan cukup kompetitif, seperti beras Rp 5.000 per kg atau di bawah harga pasar Rp 7.000 per kg. Minyak goreng kemasan Rp 8.000 per kg atau selisih dari harga pasar Rp 11.000 per kg. Sedangkan gula pasir dijual Rp 7.500 per kg, atau selisih Rp 1.500 per kg dari harga pasar Rp 9.000 per kg. Selisih harga itu mendapatkan subsidi dari pemerintah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau