ENDE, KOMPAS.com -- Dokter PMI Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Yosefa Lily mengemukakan, pihaknya mengalami masalah pendanaan, sehingga sulit melakukan sosialisasi tentang pentingnya donor darah. Sementara kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah secara sukarela masih tergolong rendah.
"Fasilitas yang kami miliki juga terbatas," ungkap Lily, Rabu (24/8/2011), menanggapi kurangnya stok darah yang dipasok PMI ke Bank Darah RSUD Ende.
Lily menjelaskan, anggaran operasional tahun 2011 untuk PMI Ende cuma Rp 25 juta. Itu pun lebih banyak dialokasikan untuk membeli kantung darah, yang harganya per kantung sekitar Rp 30.000.
"Kami juga sudah berupaya bergerak ke instansi-instansi pemerintah, tapi respons mereka umumnya rendah. Perhatian yang besar biasanya dari bank-bank dan kalangan militer," kata Lily.
Kendala lain, PMI Ende kesulitan menjangkau wilayah pedalaman yang jarak tempuhnya sekitar 2-4 jam dari kota Ende, belum lagi peralatan penyimpanan kantung darah yang dimiliki hanya yang berkapa sitas kecil, yakni 15 - 20 kantung.
"Banyak juga keadaan di desa yang belum berlistrik, sehingga kami tak dapat melakukan screening serum darah di lokasi," kata Lily.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang