DENPASAR, KOMPAS.com--Yayasan Arti Foundation bekerja sama dengan UPT Taman Budaya Provinsi Bali akan menyelenggarakan parade teater se-Bali di Art Center Denpasar, 9-19 September 2011.
Kadek Suardana, koordiantor Yayasan Arti Foundation di Denpasar, Rabu mengatakan, kegiatan parade tersebut untuk memberikan wadah bagi pertumbuhan teater modern di Bali sebagai salah satu ekspresi kesenian masyarakat Pulau Dewata.
"Parade teater tersebut akan diikuti delapan grup. Yang pementasannya digelar di Gedung Ksirarnawa dan Panggung Angsoka di kompleks Art Center Kota Denpasar," katanya.
Ia mengatakan, dari delapan grup teater tersebut setiap hari akan pentas sesuai dengan jadwal dengan judul yang berbeda-beda.
"Masing-masing grup akan mengangkat naskah dari sastrawan yang terkenal, antara lain Arifin C Noer, Anton Chekov, Jean Annoulih dan Eugene Lonesco," ucap Suardana.
Seperti diketahui, kata dia, seni pertunjukkan di Bali berkembang sangat pesat dari generasi ke generasi. Pertumbuhan itu harus diakui, tidak bisa dilepaskan dari interaksi budaya masyarakat Bali dengan berbagai kebudayaan lain. Baik yang datang dari luar nusantara seperti China, India atau Eropa termasuk juga kebudayaan yang berasal dari dalam negeri sendiri seperti Jawa.
"Intraksi itu menghasilkan berbagai bentuk kesenian yang kemudian berakar kuat dalam masyarakat yang disebut sebagai kesenian tradisional," katanya.
Menurut dia, yang pantas dipetik dari pertumbuhan kesenian Bali adalah keterbukaannya menerima perubahan dan menyiapkan diri berinteraksi dengan kesenian Bali.
Namun di balik itu, kata Suardana, harus dicatat bahwa segala perubahan dan interaksi itu tidak serta merta menghapus jejak-jejak ke-Bali-an pada setiap kesenian.
"Bahkan hingga kini pun kita masih tetap bisa menikmati kesenian-kesenian asli yang belum berubah, walau telah muncul cabang-cabang kesenian lain yang lebih baru," ucap Suardana yang didampingi Dewa Gede Palguna.
Ia mengatakan, teater modern adalah bentuk ekspresi kesenian sangat lebar. Hampir tidak ada pakem yang menjadi batas di dalamnya.
"Sutradara, pemain, penata set, pemain musik, penata lampu dan seluruh pekerja teater modern memiliki ruang yang sangat luas untuk menumpahkan ekspresinya di atas panggung," katanya.
Dewa Gede Palguna yang juga pendiri Yayasan Arti Foundation menambahkan, teater modern menjadi semacam kesenian yang "menampung" segala bentuk dan jenis kesenian lain menjadi satu kesatuan pertunjukkan. "Seni vokal, musik, akting, seni rupa, seni tari akan bergumul menjadi satu dalam sebuah pertunjukkan," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, sangat besar peluang bagi seniman teater untuk menyerap dan mengolah berbagai bentuk kesenian tradisional Bali menjadi pertunjukkan baru yang akan memperkaya khasanah kesenian Pulau Dewata.
"Proses tersebut tentu saja harus diupayakan secara terus menerus. Karena itu kami berharap parade teater semacam ini bisa diselenggarakan secara rutin di Bali," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang