ARTI Gelar Parade Teater Se-Bali

Kompas.com - 25/08/2011, 03:00 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com--Yayasan Arti Foundation bekerja sama dengan UPT Taman Budaya Provinsi Bali akan menyelenggarakan parade teater se-Bali di Art Center Denpasar, 9-19 September 2011.

Kadek Suardana, koordiantor Yayasan Arti Foundation di Denpasar, Rabu mengatakan, kegiatan parade tersebut untuk memberikan wadah bagi pertumbuhan teater modern di Bali sebagai salah satu ekspresi kesenian masyarakat Pulau Dewata.

"Parade teater tersebut akan diikuti delapan grup. Yang pementasannya digelar di Gedung Ksirarnawa dan Panggung Angsoka di kompleks Art Center Kota Denpasar," katanya.

Ia mengatakan, dari delapan grup teater tersebut setiap hari akan pentas sesuai dengan jadwal dengan judul yang berbeda-beda.

"Masing-masing grup akan mengangkat naskah dari sastrawan yang terkenal, antara lain Arifin C Noer, Anton Chekov, Jean Annoulih dan Eugene Lonesco," ucap Suardana.

Seperti diketahui, kata dia, seni pertunjukkan di Bali berkembang sangat pesat dari generasi ke generasi. Pertumbuhan itu harus diakui, tidak bisa dilepaskan dari interaksi budaya masyarakat Bali dengan berbagai kebudayaan lain. Baik yang datang dari luar nusantara seperti China, India atau Eropa termasuk juga kebudayaan yang berasal dari dalam negeri sendiri seperti Jawa.

"Intraksi itu menghasilkan berbagai bentuk kesenian yang kemudian berakar kuat dalam masyarakat yang disebut sebagai kesenian tradisional," katanya.

Menurut dia, yang pantas dipetik dari pertumbuhan kesenian Bali adalah keterbukaannya menerima perubahan dan menyiapkan diri berinteraksi dengan kesenian Bali.

Namun di balik itu, kata Suardana, harus dicatat bahwa segala perubahan dan interaksi itu tidak serta merta menghapus jejak-jejak ke-Bali-an pada setiap kesenian.

"Bahkan hingga kini pun kita masih tetap bisa menikmati kesenian-kesenian asli yang belum berubah, walau telah muncul cabang-cabang kesenian lain yang lebih baru," ucap Suardana yang didampingi Dewa Gede Palguna.

Ia mengatakan, teater modern adalah bentuk ekspresi kesenian sangat lebar. Hampir tidak ada pakem yang menjadi batas di dalamnya.

"Sutradara, pemain, penata set, pemain musik, penata lampu dan seluruh pekerja teater modern memiliki ruang yang sangat luas untuk menumpahkan ekspresinya di atas panggung," katanya.

Dewa Gede Palguna yang juga pendiri Yayasan Arti Foundation menambahkan, teater modern menjadi semacam kesenian yang "menampung" segala bentuk dan jenis kesenian lain menjadi satu kesatuan pertunjukkan. "Seni vokal, musik, akting, seni rupa, seni tari akan bergumul menjadi satu dalam sebuah pertunjukkan," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, sangat besar peluang bagi seniman teater untuk menyerap dan mengolah berbagai bentuk kesenian tradisional Bali menjadi pertunjukkan baru yang akan memperkaya khasanah kesenian Pulau Dewata.

"Proses tersebut tentu saja harus diupayakan secara terus menerus. Karena itu kami berharap parade teater semacam ini bisa diselenggarakan secara rutin di Bali," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau