Sekolah ini mengambil semangat dasar dari sekolah-sekolah itu, yaitu melahirkan generasi ukir Jepara.
Sekolah ukir rakyat ”Sungging Mulyo” di sentra kerajinan ukir dan patung, Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, baru dirintis tahun ini. Angkatan pertama sekolah informal itu berjumlah sembilan siswa putus sekolah.
Ruang kelasnya cukup unik, yaitu menempati pojok rumah Sekretaris Desa Mulyoharjo Achmadi, seluas 12 meter persegi. Ruang praktiknya adalah rumah-rumah perajin dan pengukir patung.
Kepala Desa Mulyoharjo HM Rosyid mengatakan, sekolah itu berdiri di atas keprihatinan menurunnya generasi ukir dan terdapat sejumlah anak putus sekolah di Desa Mulyoharjo. Dari sekitar 8.000 jiwa penduduk desa, perajin ukiran hanya 30 persen. ”Padahal, dahulu, separuh lebih penduduk Mulyoharjo menjadi perajin ukir-ukiran,” kata dia.
Pendiri Koperasi Serba Usaha Pemuda Tunas Patria Desa Mulyoharjo Muh Suryadi mengemukakan, usaha kerajinan yang bergabung dalam koperasi berjumlah 153 unit dengan 800 tenaga kerja. Sebanyak 70 persennya adalah tenaga kerja berusia 30 tahun ke atas.
”Biasanya pada umur 40-an ke atas, kemampuan mengukir seseorang turun karena mata sudah tidak begitu awas lagi, terutama untuk mengukir motif bunga,” kata dia.
Untuk menjawab tantangan itulah tokoh pengukir dan perangkat desa merintis sekolah itu. Peralatannya berasal dari hibah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dan sejumlah perajin. Bahan bakunya disediakan para perajin.
Materi pelajaran berupa teori mengukir dan memahat, menghaluskan, dan mengenal pola-pola motif ukir. Misalnya, motif lunglungan, majapahitan, dan ornamen mantingan.
”Setelah teori dasar didapat, mereka nyantrik atau belajar sambil bekerja kepada seorang pengukir. Biasanya mereka langsung diberi garapan memahat dan mengukir,” kata Achmadi, salah satu penggagas sekolah ukir Desa Mulyoharjo.
Achmadi menambahkan, sekolah ukir informal itu lebih mengedepankan praktik dan ritme kerja pengukir. Hal itu berbeda dengan sekolah formal yang terbatasi jam dan ruangan praktik.
Kemisan (20), salah seorang pengukir mula yang belajar di sekolah itu, mengaku terbantu. Dia yang semula mempunyai keterampilan ukir yang pas-pasan kini mulai mengerti aneka macam motif ukir dan memahat patung.
”Saya ingin menjadi pengukir utama yang andal, bukan pengukir pembantu, sehingga pendapatan per hari Rp 50.000,” kata Kemisan yang putus sekolah sejak SMP.
Desa Mulyoharjo, terutama Dukuh Belakang Gunung, merupakan tempat kelahiran pengukir-pengukir Jepara sejak zaman Majapahit.
Pada masa Kerajaan Demak, sejumlah pengukir Jepara menjadi asisten ahli ukir Tiongkok, Cwie Wie Gwan atau Sungging Badar Duwung. Cwie didatangkan oleh Sultan Hadirin, suami Ratu Kalinyamat.
Pada era RA Kartini, pengukir-pengukir Jepara naik daun. RA Kartini mempromosikan ukiran Jepara dalam Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling Vor Vrouwenarbeid) di Den Haag, Belanda, pada 1898.
Setelah itu, muncul sekolah pertukangan formal yang sekarang menjadi SMKN 2 Jepara. Kemudian lahir Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama (STIENU) Jepara dengan jurusan manajemen industri kayu dan desain interior.
”Kami ingin Desa Mulyoharjo memiliki sekolah ukir khusus anak-anak putus sekolah. Kami telah mempunyai lahan bondo desa, tinggal menunggu bantuan dana untuk membangun sekolah beserta fasilitasnya,” kata HM Rosyid.