Sekolah ukir jepara

Menyiapkan Anak Putus Sekolah

Kompas.com - 25/08/2011, 03:47 WIB

Oleh Hendriyo Widi

Sekolah ini bukanlah Openbare Ambatchtsscholl atau sekolah pertukangan kayu pertama di Jepara pada zaman Belanda (1929). Bukan Kosyu Gakko atau sekolah pertukangan kayu di Jepara pada zaman Jepang. Bukan pula SMK Negeri II Jepara, sekolah pertukangan kayu masa kini. 

Sekolah ini mengambil semangat dasar dari sekolah-sekolah itu, yaitu melahirkan generasi ukir Jepara.

Sekolah ukir rakyat ”Sungging Mulyo” di sentra kerajinan ukir dan patung, Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, baru dirintis tahun ini. Angkatan pertama sekolah informal itu berjumlah sembilan siswa putus sekolah.

Ruang kelasnya cukup unik, yaitu menempati pojok rumah Sekretaris Desa Mulyoharjo Achmadi, seluas 12 meter persegi. Ruang praktiknya adalah rumah-rumah perajin dan pengukir patung.

Kepala Desa Mulyoharjo HM Rosyid mengatakan, sekolah itu berdiri di atas keprihatinan menurunnya generasi ukir dan terdapat sejumlah anak putus sekolah di Desa Mulyoharjo. Dari sekitar 8.000 jiwa penduduk desa, perajin ukiran hanya 30 persen. ”Padahal, dahulu, separuh lebih penduduk Mulyoharjo menjadi perajin ukir-ukiran,” kata dia.

Pendiri Koperasi Serba Usaha Pemuda Tunas Patria Desa Mulyoharjo Muh Suryadi mengemukakan, usaha kerajinan yang bergabung dalam koperasi berjumlah 153 unit dengan 800 tenaga kerja. Sebanyak 70 persennya adalah tenaga kerja berusia 30 tahun ke atas.

”Biasanya pada umur 40-an ke atas, kemampuan mengukir seseorang turun karena mata sudah tidak begitu awas lagi, terutama untuk mengukir motif bunga,” kata dia.

”Nyantrik”

Untuk menjawab tantangan itulah tokoh pengukir dan perangkat desa merintis sekolah itu. Peralatannya berasal dari hibah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dan sejumlah perajin. Bahan bakunya disediakan para perajin.

Materi pelajaran berupa teori mengukir dan memahat, menghaluskan, dan mengenal pola-pola motif ukir. Misalnya, motif lunglungan, majapahitan, dan ornamen mantingan.

”Setelah teori dasar didapat, mereka nyantrik atau belajar sambil bekerja kepada seorang pengukir. Biasanya mereka langsung diberi garapan memahat dan mengukir,” kata Achmadi, salah satu penggagas sekolah ukir Desa Mulyoharjo.

Achmadi menambahkan, sekolah ukir informal itu lebih mengedepankan praktik dan ritme kerja pengukir. Hal itu berbeda dengan sekolah formal yang terbatasi jam dan ruangan praktik.

Kemisan (20), salah seorang pengukir mula yang belajar di sekolah itu, mengaku terbantu. Dia yang semula mempunyai keterampilan ukir yang pas-pasan kini mulai mengerti aneka macam motif ukir dan memahat patung.

”Saya ingin menjadi pengukir utama yang andal, bukan pengukir pembantu, sehingga pendapatan per hari Rp 50.000,” kata Kemisan yang putus sekolah sejak SMP.

Mimpi desa

Desa Mulyoharjo, terutama Dukuh Belakang Gunung, merupakan tempat kelahiran pengukir-pengukir Jepara sejak zaman Majapahit.

Pada masa Kerajaan Demak, sejumlah pengukir Jepara menjadi asisten ahli ukir Tiongkok, Cwie Wie Gwan atau Sungging Badar Duwung. Cwie didatangkan oleh Sultan Hadirin, suami Ratu Kalinyamat.

Pada era RA Kartini, pengukir-pengukir Jepara naik daun. RA Kartini mempromosikan ukiran Jepara dalam Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling Vor Vrouwenarbeid) di Den Haag, Belanda, pada 1898.

Setelah itu, muncul sekolah pertukangan formal yang sekarang menjadi SMKN 2 Jepara. Kemudian lahir Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama (STIENU) Jepara dengan jurusan manajemen industri kayu dan desain interior.

”Kami ingin Desa Mulyoharjo memiliki sekolah ukir khusus anak-anak putus sekolah. Kami telah mempunyai lahan bondo desa, tinggal menunggu bantuan dana untuk membangun sekolah beserta fasilitasnya,” kata HM Rosyid.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau