SURABAYA, KOMPAS.com — Anomali cuaca dan serangan hama wereng coklat yang mendominasi sejumlah wilayah di Jawa Timur menyebabkan banyak tanaman padi gagal panen atau puso.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jatim, tercatat hingga 30 Juli, sekitar 27.000 hektar lahan padi mengalami puso. Dari jumlah itu, petani telah mengajukan permintaan ganti rugi untuk 6.218 hektar lahan, sesuai janji Menteri Pertanian Suswono.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim Achmad Nurfalakhi di Surabaya, Kamis (25/8/2011), mengatakan, instansinya telah menerima pengajuan ganti rugi dari petani yang gagal panen. Sesuai prosedur, petani wajib melapor kepada ketua kelompok tani, lalu mantra tani mencatat, selanjutnya dibuat surat keputusan oleh dinas pertanian kabupaten/kota setempat.
SK tersebut, katanya, dikirim kepada Dinas Pertanian Jatim. Saat ini ada laporan 6.218 hektar lahan padi puso telah masuk dan sudah dicek ke lapangan. Kendati demikian, verifikasi belum dilakukan dan dijadwalkan September mendatang.
Upaya ganti rugi berupa bantuan penanggulangan padi puso (BP3), kata Achmad, masih dikhawatirkan rawan kecurangan. Alasannya, banyak data yang masuk, tetapi verifikasi tak mungkin dilakukan secara valid dan menyeluruh. Apalagi, lahan yang terkena puso sangat luas.
Faktor lain, sosialisasi BP3 kurang gencar, karena jika banyak petani yang tahu, dikhawatirkan petani justru pasrah saat padinya puso. BP3 dari Kementerian Pertanian tersebut telah disediakan untuk 100.000 hektar lahan yang puso.
Petani akan mendapat ganti rugi uang Rp 3,7 juta, upah tenaga kerja Rp 2,6 juta per hektar, dan paket pupuk Rp 1,1 juta per hektar.
Ganti rugi itu juga telah ditegaskan Menteri Pertanian di Surabaya, beberapa saat lalu. Lahan puso jika gagal panen mencapai lebih dari 75 persen.
Meningkatnya tanaman padi puso menodorong Dinas Pertanian Jatim meminta petani menghentikan penanaman padi, minimal satu musim tanam. Langkah ini untuk memutus rantai perkembangan wereng tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang