Oleh Mukhamad Kurniawan
Desa Cemarajaya di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, menjadi contoh kerusakan akibat abrasi. Pada tahun 1986, desa ini memiliki luas 1.499 hektar, tetapi kini luasnya tak lebih dari 1.414 hektar. Lebih dari 85 hektar daratan kini berubah jadi lautan.
Areal tambak, lapangan, kebun kelapa, dan rumah warga lenyap tergerus gelombang. Menurut Sekretaris Desa Cemarajaya Endi Suhendi, kantor desa yang tahun 2000-an berjarak sekitar satu kilometer dari pantai kini kurang dari 50 meter.
Tanggul penahan ombak dan batu pemecah gelombang tidak terlihat lagi. Jalan utama penghubung Kampung Cemara Utara, Cemara Selatan, dan Sekong dengan Mekarjaya dan Pisangan putus di beberapa titik karena tergerus ombak. Pedagang dan petambak sulit membawa dagangan dan hasil panennya karena akses satu-satunya terputus, terutama saat laut pasang.
Abrasi juga dikeluhkan pedagang, pemilik warung, dan pengelola obyek wisata pantai di desa itu. Pengunjung terus berkurang karena fasilitas wisata rusak dihantam gelombang laut. ”Saya sudah tiga kali memindahkan warung karena tergerus ombak, tetapi sekarang sudah harus pindah lagi,” kata Kasmi (60), pemilik warung ikan bakar di kawasan itu.
Kawasan pantai biasanya ramai dikunjungi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional. Namun, beberapa tahun terakhir, pengunjung terus berkurang. Sebagian pedagang bahkan hanya membuka warung pada libur Idul Fitri dan Tahun Baru saja.
Kisah muram akibat abrasi terjadi di sejumlah wilayah lain di pesisir utara, seperti di Pantai Bahagia, Sederhana, dan Baktijaya di perbatasan Kabupaten Karawang dan Bekasi; Cibuaya dan Cilamaya Kulon (Karawang); Legonkulon dan Pusakanagara (Subang); serta Juntinyuat, Juntikebon, dan Kandanghaur (Indramayu).
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jabar mencatat, mengacu data 1999-2003, abrasi di sepanjang 365 kilometer pantai utara dari Cirebon di timur hingga Bekasi di barat mencapai 370,3 hektar per tahun. Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar tahun 2007 tak jauh berbeda dengan luasan tersebut. Selain abrasi, pesisir utara Jabar juga menghadapi persoalan sedimentasi, pencemaran, dan intrusi air laut.
Beragam program ditempuh pemerintah untuk menahan laju abrasi, seperti membangun tanggul, memasang pemecah gelombang, atau menanam pohon bakau. Namun, tanpa keteladanan tokoh masyarakat setempat, beberapa program itu gagal. Tanggul dan pemecah gelombang rusak diterpa air pasang dan gelombang bertubi-tubi, sementara bibit bakau mati dan gagal tumbuh karena tak terawat.
Ada sejumlah tokoh masyarakat pesisir utara yang dengan kepemimpinannya menjaga dan mengembangkan ”sabuk hijau”. Mereka membibitkan bakau, menanam, dan merawat hingga tumbuh besar. Mereka pula yang menggerakkan warga untuk terlibat dalam usaha menanam bibit sebanyak mungkin, merawat, dan mengawasi pohon dari ancaman penebangan.
Seperti kiprah almarhum Rasban yang merintis penghijauan di Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, sejak tahun 1990. Selain menjadi motor bagi sejumlah program rehabilitasi lahan yang dilaksanakan pemerintah, Rasban secara swadaya menanam dan memindahkan bibit ke lahan kosong dan wilayah pantai yang rentan abrasi.
Usahanya yang konsisten selama bertahun-tahun membuat 416 hektar kawasan pantai di daerah itu menjadi hijau. Keberadaan benteng hijau juga menopang usaha warga membudidayakan bandeng dan udang secara konvensional, tanpa pakan dan sentuhan teknologi. Mereka membiarkan bibit ikan dan udang tumbuh selama 3-4 bulan dengan pakan alam. Selain menyediakan pakan alami, rerimbunan bakau, api-api, kapidada, kandeka, ridong, dan tumbuhan lain di kawasan tambak diyakini melindungi ikan dan udang dari dampak buruk cuaca ekstrem.
Kiprah Rasban dilanjutkan Ratim Suterjo, yang juga Manajer Tempat Pelelangan Hasil Tambak Satar di Muara Baru, lima tahun terakhir. Bersama petambak anggotanya, Ratim menjaga bibit bakau yang tumbuh di bawah pohon induk, kemudian memindahkan dan menjaganya di lokasi lain untuk penghijauan.
Dia juga menjaga pohon-pohon bakau induk, yang ditanam Rasban sejak 20 tahun lalu, sebagai sumber bibit yang terus berproduksi secara alami. Menurut dia, setiap daerah memiliki karakter tanah, air, dan lingkungan yang berbeda sehingga karakter pohon berbeda. Dasar itu yang membuat dia mempertahankan pohon bakau asli desanya.
Kiprah serupa ditempuh Tata Husen, Kepala Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang. Sejak tahun 2003, dia mencari dan mengumpulkan bibit bakau dari lokasi lain. Bibit pohon terkumpul digratiskan kepada siapa saja yang berminat menanamnya. Sebagai kepala desa, dia menyisipkan pesan tentang pentingnya sabuk hijau sebagai benteng desa dalam pertemuan dengan warga.
Hasilnya, meski belum maksimal, Desa Sungaibuntu relatif hijau dan aman dari amukan gelombang laut. Desa ini hanya berjarak lima kilometer dari Cemarajaya yang rusak akibat abrasi. Namun, terkait abrasi, kondisi kedua desa berbeda. Usaha Tata bersama warganya telah mengubah kawasan pantai yang sebelumnya gersang menjadi obyek wisata pantai yang menarik minat pengunjung.
Lokasi itu kemudian diberi nama Pantai Samudera Baru. Selain membentengi permukiman warga dari gelombang, usaha menghijaukan pantai itu terbukti menghidupi warga. Jika dulu hanya ada tiga warung di kawasan pantai, kini telah beroperasi sedikitnya 32 warung. Pada hari libur nasional, pantai yang dikelola oleh Desa Sungaibuntu itu selalu menyedot pengunjung 1.500-2.000 orang.