Selain itu, lebih dari 10 klub liga profesional musim lalu (baca: Liga Super Indonesia/LSI) juga tidak memiliki laporan keuangan yang telah diaudit. Klub-klub yang menyerahkan deposit partisipasi atau bank garansi kepada PSSI ternyata juga bukan dari level LSI dan Divisi Utama, melainkan dari divisi di bawahnya.
Demikian hasil verifikasi tim asistensi assessment yang disampaikan Komite Kompetisi PSSI Sihar Sitorus dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/8). Menurut Sihar Sitorus, hasil verifikasi ini selanjutnya akan disampaikan kepada Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) tanggal 3 September mendatang.
Sihar Sitorus menjelaskan, sesuai dengan yang diminta AFC, ada lima persyaratan profesional yang harus dipenuhi klub Indonesia, yakni aspek legal, keuangan, infrastruktur, sumber daya manusia, dan sporting. Dari lima persyaratan ini juga masih banyak turunannya, sekitar 15 item.
Semua klub yang diverifikasi ternyata tidak ada yang bisa memenuhi semua persyaratan. Padahal, persyaratan ini mutlak dipenuhi sebagai standar Liga Champions Asia (ACL).
”Terkait masalah ini, kita serahkan sepenuhnya kepada AFC. Akan tetapi, dalam pertemuan dengan AFC tanggal 5 September nanti, kami akan berusaha melobi dan meyakinkan bahwa semua persyaratan itu akan dipenuhi sebelum tanggal 14 Oktober 2011,” kata Sihar Sitorus.
PSSI, kata Sihar Sitorus, juga akan memberi jaminan kepada AFC. ”Kami berani menjamin karena secara komersial dan finansial tak ada masalah,” ujarnya.
Sementara itu, untuk sistem kompetisi, PSSI memutuskan membagi kompetisi profesional musim depan ke dalam dua strata, dengan strata teratasnya dibagi lagi ke dalam dua wilayah yang masing-masing berisi 16 klub.
Jika mengacu pada persyaratan AFC, kompetisi seharusnya digelar dalam satu wilayah dan maksimal berisi 20 klub peserta. Terkait dengan masalah ini, Sihar Sitorus mengatakan, keputusan PSSI sudah dikomunikasikan dengan AFC.
”Dengan kondisi wilayah Indonesia dan menimbang faktor finansial klub, maka kompetisi dua wilayah menjadi pilihan. Masalah ini sudah kami sampaikan kepada AFC,” ujarnya.
Menurut Sihar Sitorus, untuk kompetisi tertinggi sudah ada 34 klub yang dinominasikan. Selanjutnya, semua klub akan menjalani verifikasi lagi dari PSSI dan AFC terkait kelaikan stadion.
”Dua klub yang nilai kelaikan stadionnya terendah akan langsung turun ke kompetisi liga profesional level 2. Jadi, total peserta kompetisi tertinggi akan menjadi 32 yang dibagi dua,” katanya.
Untuk menentukan juara, dua tim teratas tiap-tiap wilayah akan melaju ke babak semifinal. Sementara untuk degradasi, dua tim terbawah tiap-tiap wilayah yang akan tereliminasi.
Adapun untuk kompetisi strata kedua, PSSI menetapkan jumlah pesertanya sebanyak 48 klub. Sistem kompetisinya akan dibagi dalam empat grup sehingga tiap- tiap grup akan terdiri atas 12 klub per wilayah.
Sejauh ini PSSI mencalonkan 36 klub, ditambah dua tim yang berasal dari nomine kompetisi strata satu, yang tidak lolos kelaikan stadionnya. ”Jadi, karena masih kurang 10 peserta, kami akan memverifikasi klub lain dari Divisi Satu di luar klasemen musim lalu. Mereka akan kami masukkan setelah memenuhi syarat wajib,” kata Sihar Sitorus.
Sementara itu, sehubungan dengan persyaratan keuangan, Komite Kompetisi PSSI memutuskan bahwa untuk kompetisi strata satu, nilai depositnya diturunkan dari Rp 5 miliar menjadi Rp 3 miliar. Deposit partisipasi langsung dari klub ditiadakan.
Sebagai upaya untuk membantu klub, PSSI dan PT Liga akan menjamin partisipasi ini dengan menerbitkan promissory notes kepada klub peserta liga strata satu. ”Sementara untuk kompetisi strata dua, nilai deposit partisipasi kami tiadakan,” kata Sihar Sitorus.