Surabaya, Kompas -
Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia Deddy Kurniawan Wikanta, Jumat (26/8), mengatakan, sebagai manajer pelatnas tenis meja, dirinya telah melaporkan hasil itu kepada Satlak Prima Utama.
”Ada wacana dari Satlak Prima untuk memberikan sanksi kepada lima petenis meja yang menolak mengikuti seleksi beberapa hari lalu, tetapi kami masih mempelajarinya,” ujarnya.
Deddy mengatakan, menurut Satlak Prima, penolakan itu tidak bisa ditolerir. Sebagai atlet pelatnas, mereka seharusnya mengikuti arahan yang diberikan induk cabang olahraga dan manajer pelatnas.
Ketua Satlak Prima Utama Tono Suratman sebelumnya mengusulkan agar kelima petenis meja itu diberi sanksi oleh induk cabang olahraga. ”Harus ada penghargaan dan hukuman (reward and punishment) bagi atlet yang berprestasi dan bertindak sebaliknya. Mereka sudah bukan atlet pelatnas sejak adanya penolakan itu,” ujar Tono.
Tono menyarankan agar PB PTMSI memberikan sanksi berupa pelarangan keikutsertaan kelima atlet dalam berbagai event kejuaraan, termasuk di dalamnya Pekan Olahraga Nasional 2013 dan kejuaraan nasional yang diadakan oleh KONI dan sebagainya. Sanksi itu bisa diberikan selama dua tahun atau lebih.
Lima atlet yang terancam sanksi adalah Gilang Maulana dan Yulius (kelompok putra) serta tiga petenis meja putri, yaitu Noor Azizah, Yudha Ngesti Pratiwi, dan Widya Wulansari. Kelima atlet ini adalah petenis meja andalan Jawa Timur.
Kelimanya menolak mengikuti seleksi tambahan pembentukan tim inti tenis meja SEA Games XXVI/2011, dengan alasan mekanisme seleksi yang tidak jelas. Selain tidak mengikutsertakan enam atlet pelatnas lainnya— Ficky Supit, Freddy, dan Donny (kelompok putra) serta tiga atlet putri, yaitu Silir Rovani, Christine, dan Yuli—juga ada empat petenis meja peserta seleksi belum pernah mengikuti program pembentukan karakter.
Satu lagi atlet nonpelatnas,
Deddy menyatakan, pembentukan tim inti adalah bagian dari tahapan Satlak Prima Utama, yaitu jumlah atlet tim inti 100 persen per 1 September 2011.
Gilang Maulana mengatakan, bila seleksi dilakukan adil, semua atlet pelatnas harus diikutsertakan, termasuk semua atlet yang sedang berlatih di China. ”Saya tidak masuk dalam atlet yang diberangkatkan pada gelombang pertama dengan alasan belum ada dana dari Satlak Prima. Giliran berangkat setelah dana pelatnas cair,” katanya.
Sekretaris Umum Pengurus Provinsi PTMSI Jawa Timur Ahmad Rivai belum bisa dihubungi terkait ancaman sanksi kelima atletnya. Namun, dalam perbincangan sebelumnya, dia berharap Satlak Prima dan PB PTMSI bisa menjelaskan pelaksanaan pelatnas tenis meja yang kurang tersosialisasikan.