Hari Ini Puncak Arus Mudik

Kompas.com - 27/08/2011, 04:27 WIB

Jakarta, Kompas - Arus mudik Lebaran 2011 yang terbagi melalui jalur pantai utara Jawa, lintas selatan Jawa, dan penyeberangan Merak-Bakauheni, Sabtu (27/8), memasuki puncaknya. Peningkatan volume kendaraan berangsur-angsur menyebabkan kemacetan di sejumlah lokasi, menuntut kesiagaan petugas dan kedisiplinan pengemudi.

Di kawasan Cikampek, kemacetan terjadi di Simpang Jomin, Simpang Cikampek, ruas Kalihurip-Dawuan. Penumpukan kendaraan terjadi sekitar pukul 11.00 kemarin menjelang Kilometer 66 sebagai titik pengaturan arus lalu lintas dari Cikampek menuju jalur utara, tengah, atau selatan.

Polisi memberlakukan sistem buka-tutup untuk mengurai kemacetan. Pemantauan hingga pukul 20.30, arus kendaraan di Cikampek masih tersendat.

Kendaraan yang meninggalkan gerbang Tol Cileunyi di jalur mudik lintas selatan Jawa mulai sekitar pukul 17.00 makin meningkat. Volume kendaraan pada pukul 17.00 berkisar 1.200 unit per jam, meningkat menjadi 1.500 unit pada pukul 19.00.

Pemberlakuan satu arah untuk jalur lama di Nagreg membantu kelancaran arus kendaraan menuju Tasikmalaya dan Garut. Arus lalu lintas dari Tasikmalaya dan Garut diarahkan ke Jalur Lingkar Nagreg.

Pemudik juga mulai memadati Pelabuhan Merak kemarin petang. Petugas Bagian Humas PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Indonesia, Ferry, menyatakan, pada hari normal hanya 80 penyeberangan atau trip, tetapi kini ditingkatkan menjadi 106 trip.

Bergerak ke timur

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan mengatakan, kepadatan kendaraan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, kemarin malam, mulai memuncak. Untuk mengurangi risiko kemacetan parah, selain sistem buka-tutup kendaraan, pemudik juga dialihkan ke jalur alternatif Sadang-Cikamurang hingga menuju pantura di Cirebon.

”Kepadatan kendaraan segera bergerak ke timur menuju Tol Kanci-Pejagan,” kata Bambang.

Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara kemarin pukul 07.00 hingga pukul 17.00 mencapai 81.271 orang. Pada 24 jam sebelumnya, jumlah penumpang angkutan udara mencapai 156.885 orang.

Jumlah penumpang kereta api pada periode yang sama mencapai 50.270 penumpang. Sehari sebelumnya jumlahnya mencapai 80.777 penumpang.

Pergerakan kendaraan pemudik sudah terpantau hingga Brebes, Jawa Tengah. Kepadatan tidak hanya di ruas jalur pantura Brebes, tetapi sudah memasuki jalur pantura Kota Tegal.

Antrean kendaraan pada siang hari terlihat mulai dari Terminal Kota Tegal hingga Kaligangsa (perbatasan dengan Kabupaten Brebes), sepanjang 2 kilometer.

Arus pemudik dengan sepeda motor yang masuk ke Jawa Tengah melalui Cisanggarung juga meningkat daripada hari sebelumnya. Berdasarkan data Pos Cisanggarung, kemarin pukul 12.00, arus sepeda motor mencapai 32.508 kendaraan. Angka itu meningkat dibandingkan dengan periode sama sebelumnya, yaitu 15.447 sepeda motor.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kabupaten Brebes Sutriyono mengimbau agar pemudik bersepeda motor melintas siang hari untuk menghindari kepadatan arus kendaraan malam harinya.

Pemantauan di beberapa lokasi lain, seperti di jembatan Pemali di jalur pantura Brebes, menunjukkan, jembatan masih berlantaikan pelat besi sehingga licin dan membahayakan pengendara sepeda motor. Di beberapa pasar tumpah juga masih dijumpai lalu lalang penyeberang jalan.

Lebih giat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin menempuh perjalanan dengan kereta api selama empat setengah jam dari Tegal, Jawa Tengah, sampai Jakarta. Selama perjalanan, Presiden mendapatkan pemandangan yang masih menyedihkan dan memalukan.

Demikian kesan Presiden pada akhir perjalanan safari Ramadhan di sejumlah tempat di Jawa Barat bagian selatan dan bagian barat Jawa Tengah selama empat malam lima hari dan berakhir kemarin.

Hasil sebagian perjalanan itu diceritakan Yudhoyono dalam acara buka puasa bersama pimpinan media massa dan wartawan di Istana Negara, beberapa menit setelah tiba di Jakarta. Presiden mengakui bahwa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan pembangunan di bawah pemerintahannya.

Oleh karena itu, Presiden meminta kabinet di bawah pimpinannya bekerja lebih giat.

”Kabinet harus berlari lebih kencang, sprint, melakukan langkah ekstra untuk menutup kekurangan-kekurangan,” ujar Yudhoyono.

Wakil Presiden Boediono dan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II mengikuti acara tersebut. Adapun pimpinan media massa yang hadir antara lain Pemimpin Redaksi TV One Karni Ilyas dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun.

Kepada insan pers, Presiden menyampaikan pengalamannya selama safari Ramadhan sejak Senin hingga Jumat kemarin. Wilayah yang dikunjungi antara lain Nagreg, Tasikmalaya, Banjar, Banyumas, Brebes, dan Tegal.

Rekayasa lalu lintas

Dari padatnya arus mudik, petugas yang menjaga kelancaran arus mudik, terutama di jalur pantura, sekarang ini dituntut keseriusan dalam merekayasa lalu lintas di pertigaan Pejagan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Di pertigaan Pejagan, kendaraan keluar Tol Kanci-Pejagan akan bertemu dengan arus kendaraan, terutama sepeda motor dari Cirebon menuju Tegal. Sebelum pertigaan itu terdapat pelintasan sebidang kereta api yang tiap hari terdapat 86 rangkaian kereta melintas. Setiap 17 menit sekali akan ada kereta melintas.

Pengendara dapat menggunakan jalur alternatif menuju Ketanggungan-Slawi (29 kilometer), lalu Slawi-Adiwerna-Tegal (12 kilometer). Berikutnya, mereka dapat kembali bergabung dengan jalur pantai utara.

Apabila pemudik hendak menuju kota-kota di selatan Jawa, seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, dan Malang, jalur alternatif yang bisa dipilih adalah Ketanggungan-Prupuk-Bumiayu.

Kendaraan juga mulai memadati area parkir di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Khusus antrean sepeda motor, petugas bahkan menggunakan garis batas dengan tali tambang untuk membatasi jumlah kendaraan per kelompok.

(WSI/ELD/PRA/WIE/ACI/MKN/RYO/ATO/NIT/WHY/VIK/OSD/RIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau