Musik-teater

Korupsi: Menjual Jiwa kepada Setan

Kompas.com - 28/08/2011, 02:52 WIB

Ini kisah tentang korupsi; kisah manusia yang menjual jiwanya kepada setan. Itulah ”Histoire du Soldat” karya komposer Rusia, Igor Stravinsky, yang disuguhkan Dutch Chamber Music Company dengan koreografer Gerard Mosterd.

Histoire du Soldat” digelar di Erasmus Huis, Jakarta, pada Sabtu (20/8). Sebelumnya, karya tersebut dibawa keliling oleh Dutch Chamber Music Company (DCMC) di Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Selain karya tersebut, DCMC juga mementaskan ”The Nightingale” karya Hans Christiaan Andersen yang dinarasikan Ki Dalang Slamet Gundono.

”Histoire du Soldat” menampilkan penari Eko Supriyanto, Martinus Miroto, Sri Qadariatin, dan narator Jamaluddin Latif. Karya diawali dengan sebuah ”bingkai” ada di tengah panggung yang serba hitam. Tertangkap suasana meriah oleh musik yang lincah dalam irama cepat. Dari lubang ”bingkai” berukuran 1 meter x 5 meter itu, muncul tiga pasang kaki telanjang bergerak serempak mengikuti irama musik.

Lalu muncul wajah sang narator, Jamaluddin Latif, di dalam bingkai. Dalam bayang pendar lampu putih dan merah, narator berkisah tentang seorang prajurit yang pulang dari berperang. ”Antara sangkan (asal) dan paran (tujuan), ke kampung halaman, berjalan dan terus berjalan.” Kaki-kaki itu menari jenaka.

Tujuh pemusik DCMC dipimpin konduktor Arjan Tien mengiringi penari yang berloncatan dari lubang ”bingkai”. Mereka memasuki panggung dengan bersembunyi di balik kotak hitam. Dari balik kotak hitam, tangan dan jari Eko Supriyanto, Miroto, serta Sri Qadariatin menari indah.

”Histoire du Soldat” adalah simfoni karya komposer Rusia, Igor Stravinsky (1882-1991).

Libreto diambil dari dongeng Rusia yang ditulis dalam bahasa Perancis oleh CF Ramuz, yang diterjemahkan sebagai ”Mau Ketemu Iblis...?” Sebagai pertunjukan teater tari, ”Histoire du Soldat” memiliki lebih dari 80 versi koreografi tari, termasuk versi Afrika. Kali ini koreografer Gerard Mosterd mengolah siluet tiap tubuh para penarinya dan simbol metaforik yang jenaka. Dalam cahaya panggung yang kontras antara latar panggung yang hitam gelap dan cahaya putih terang, jari-jari Eko, Miroto, dan Sri seolah menjadi tubuh itu sendiri.

Versi Jawa

”Histoire du Soldat” adalah komposisi musik yang penting dalam sejarah perkembangan musik Eropa. Musiknya sangat individual, membuat perubahan radikal dan eksentrik atas musik Eropa. Karya itu telah dipanggungkan dengan puluhan konsep pementasan. ”Ketika pemain terompet DCMC, Raymond Vievermanns, mengajak saya membuat ”Histoire du Soldat” versi Jawa, saya langsung mengiyakan,” kata Mosterd.

Karya ini berkisah tentang seorang prajurit yang bertemu lelaki tua penjelmaan iblis. Lelaki tua itu mengincar kesucian jiwa sang prajurit. Si iblis menginginkan biola sang prajurit, menukarnya dengan sebuah buku yang menyampaikan peristiwa sebelum waktunya. Terpikat jalan untuk kaya, si prajurit pun menggadaikan jiwanya kepada sang iblis. Kisah yang terasa aneh karena simbolik dan metaforik.

”Ini kisah tentang korupsi, di mana seorang manusia menjual jiwanya kepada setan. Prajurit yang miskin itu menjadi kaya, tetapi ketika kaya, ia menyadari bahwa dia kehilangan segala hal penting bagi dirinya,” tutur Mosterd.

Penggarapan Mosterd kerap tak terduga. Kehampaan hidup yang pedih tersaji sebagai ”senam” wajah Eko, Miroto, dan Sri. Wajah ketiganya meregangkan, bibir terlipat tarikan otot wajah. Miroto menampilkan wajah yang pedih, pahit. Tarikan wajah Sri lucu, tetapi getir.

Mosterd menyusun struktur pertunjukan dengan ketat, termasuk ”simfoni” tiga pasang kaki dalam ”bingkai” dan permainan siluet tubuh penarinya. Namun, ia pun memberi ruang eksplorasi bagi Eko, Miroto, dan Sri. Eko dan Miroto, misalnya, memainkan adegan judi kartu si prajurit dan iblis dengan tarian Jawa alusan.

”Kami memakai struktur perang wireng, standar tari klasik Jawa. Idenya muncul begitu saja dan ketika kami rasa pas, kami pakai. Namun, yang paling menarik dari konsep garapan ini adalah koreografi yang tak melulu mengikuti tuturan narator,” ujar Eko.

Ketika si serdadu kekasihnya, sang putri yang disembuhkannya dari penyakit, keduanya menari. Namun, kali ini justru Eko-lah yang menjadi sang putri berkostum balerina, menari bersama Sri si serdadu.

”Mungkin penonton berharap melihat tentara dan putri, dan jika itu muncul di panggung, pastilah membosankan. Menyenangkan untuk memberikan kejutan kepada penonton,” kata Mosterd. Sayang, akhir kisahnya terasa tersendat ketika musik dan narasi Jamaluddin terasa saling memenggal bangunan suasana. (ARYO WISANGGENI G/THOMAS PUDJO WIDIYANTO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau