Histoire du Soldat” digelar di Erasmus Huis, Jakarta, pada Sabtu (20/8). Sebelumnya, karya tersebut dibawa keliling oleh Dutch Chamber Music Company (DCMC) di Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Selain karya tersebut, DCMC juga mementaskan ”The Nightingale” karya Hans Christiaan Andersen yang dinarasikan Ki Dalang Slamet Gundono.
”Histoire du Soldat” menampilkan penari Eko Supriyanto, Martinus Miroto, Sri Qadariatin, dan narator Jamaluddin Latif. Karya diawali dengan sebuah ”bingkai” ada di tengah panggung yang serba hitam. Tertangkap suasana meriah oleh musik yang lincah dalam irama cepat. Dari lubang ”bingkai” berukuran 1 meter x 5 meter itu, muncul tiga pasang kaki telanjang bergerak serempak mengikuti irama musik.
Lalu muncul wajah sang narator, Jamaluddin Latif, di dalam bingkai. Dalam bayang pendar lampu putih dan merah, narator berkisah tentang seorang prajurit yang pulang dari berperang. ”Antara
Tujuh pemusik DCMC dipimpin konduktor Arjan Tien mengiringi penari yang berloncatan dari lubang ”bingkai”. Mereka memasuki panggung dengan bersembunyi di balik kotak hitam. Dari balik kotak hitam, tangan dan jari Eko Supriyanto, Miroto, serta Sri Qadariatin menari indah.
”Histoire du Soldat” adalah simfoni karya komposer Rusia, Igor Stravinsky (1882-1991).
Libreto diambil dari dongeng Rusia yang ditulis dalam bahasa Perancis oleh CF Ramuz, yang diterjemahkan sebagai ”Mau Ketemu Iblis...?” Sebagai pertunjukan teater tari, ”Histoire du Soldat” memiliki lebih dari 80 versi koreografi tari, termasuk versi Afrika. Kali ini koreografer Gerard Mosterd mengolah siluet tiap tubuh para penarinya dan simbol metaforik yang jenaka. Dalam cahaya panggung yang kontras antara latar panggung yang hitam gelap dan cahaya putih terang, jari-jari Eko, Miroto, dan Sri seolah menjadi tubuh itu sendiri.
”Histoire du Soldat” adalah komposisi musik yang penting dalam sejarah perkembangan musik Eropa. Musiknya sangat individual, membuat perubahan radikal dan eksentrik atas musik Eropa. Karya itu telah dipanggungkan dengan puluhan konsep pementasan. ”Ketika pemain terompet DCMC, Raymond Vievermanns, mengajak saya membuat ”Histoire du Soldat” versi Jawa, saya langsung mengiyakan,” kata Mosterd.
Karya ini berkisah tentang seorang prajurit yang bertemu lelaki tua penjelmaan iblis. Lelaki tua itu mengincar kesucian jiwa sang prajurit. Si iblis menginginkan biola sang prajurit, menukarnya dengan sebuah buku yang menyampaikan peristiwa sebelum waktunya. Terpikat jalan untuk kaya, si prajurit pun menggadaikan jiwanya kepada sang iblis. Kisah yang terasa aneh karena simbolik dan metaforik.
”Ini kisah tentang korupsi, di mana seorang manusia menjual jiwanya kepada setan. Prajurit yang miskin itu menjadi kaya, tetapi ketika kaya, ia menyadari bahwa dia kehilangan segala hal penting bagi dirinya,” tutur Mosterd.
Penggarapan Mosterd kerap tak terduga. Kehampaan hidup yang pedih tersaji sebagai ”senam” wajah Eko, Miroto, dan Sri. Wajah ketiganya meregangkan, bibir terlipat tarikan otot wajah. Miroto menampilkan wajah yang pedih, pahit. Tarikan wajah Sri lucu, tetapi getir.
Mosterd menyusun struktur pertunjukan dengan ketat, termasuk ”simfoni” tiga pasang kaki dalam ”bingkai” dan permainan siluet tubuh penarinya. Namun, ia pun memberi ruang eksplorasi bagi Eko, Miroto, dan Sri. Eko dan Miroto, misalnya, memainkan adegan judi kartu si prajurit dan iblis dengan tarian Jawa
”Kami memakai struktur perang
Ketika si serdadu kekasihnya, sang putri yang disembuhkannya dari penyakit, keduanya menari. Namun, kali ini justru Eko-lah yang menjadi sang putri berkostum balerina, menari bersama Sri si serdadu.
”Mungkin penonton berharap melihat tentara dan putri, dan jika itu muncul di panggung, pastilah membosankan. Menyenangkan untuk memberikan kejutan kepada penonton,” kata Mosterd. Sayang, akhir kisahnya terasa tersendat ketika musik dan narasi Jamaluddin terasa saling memenggal bangunan suasana. (ARYO WISANGGENI G/THOMAS PUDJO WIDIYANTO)