Pi8njaman

Bank Dunia Ikut Cegah Korupsi

Kompas.com - 30/08/2011, 10:14 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com Wakil Presiden Bank Dunia untuk Integritas (The World Bank's Integrity Vice Presidency) mengumumkan bahwa upaya baru ditingkatkan untuk mencegah penipuan dan korupsi, termasuk melindungi proyek-proyek berisiko tinggi yang didanai Bank Dunia, dan memperkuat kapasitas antikorupsi di negara-negara di mana Bank Dunia beroperasi.

Upaya pencegahan itu juga dilakukan di Indonesia. "Kami saat ini fokus pada proyek-proyek berisiko tinggi dan sektor berdasarkan informasi yang timbul dari keluhan masyarakat, uji tuntas (due dilligence) kami, dan lembaga penegak hukum lainnya. Kami melakukan ini untuk melindungi dana Bank Dunia, mencegah kesalahan, dan membuat pengembangan kerja lebih baik," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Integritas, Leonard McCarthy, dalam siaran pers yang dirilis di situs Bank Dunia, Senin (29/8/2011) waktu Washington DC, Amerika Serikat, atau Selasa (30/8/2011) WIB.

Sebagai tindak lanjut rekomendasi dari Independent Review Panel tahun 2007, yang dipimpin oleh mantan Ketua Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) Paul Volcker, Bank Dunia membentuk Unit Preventive Services (PSU) di INT, yang dirancang untuk mengembangkan "perlindungan" terhadap korupsi, membantu dengan saran pendidikan dan pelatihan, serta menawarkan dan tanggapan disesuaikan dengan tuduhan korupsi yang tidak diselidiki INT.

Tahun lalu, PSU membantu membangun tindakan pencegahan terhadap kecurangan dan korupsi dalam 48 proyek di 29 negara, yang meliputi komitmen pinjaman besar.

Tindakan pencegahan termasuk audit teknis untuk menghindari kualitas kurang standar, penguatan jaminan kontrak kunci, penyaringan (screening) proyek, dan promosi nomor hotline untuk digunakan oleh warga untuk menyampaikan keluhan.

Selain itu, dikembangkan pelatihan pencegahan dan forensik untuk 2.707 pejabat pemerintah dan staf Bank Dunia.

Tahun lalu, INT mengawasi pelatihan 2.707 pejabat dan staf Bank Dunia. Pelatihan berlangsung antara lain di Banglades, Georgia, India, Indonesia, Lebanon, Kenya, Kosovo, Laos, Pakistan, Filipina, dan Thailand. Pelatihan ini dirancang untuk membantu pejabat pemerintah mengidentifikasi transaksi yang mencurigakan dan memungkinkan masyarakat sipil untuk kemudian instansi pelaksana bertanggung jawab untuk pengadaan yang adil dan transparan.

"Krisis keuangan mendorong pemerintah untuk meningkatkan upaya antikorupsi mereka dan menghentikan kebocoran. Bank Dunia mendukung upaya ini dengan memasukkan pencegahan sebagai elemen inti dalam pinjaman semua, dan memberikan dukungan penasihat untuk reformasi pemerintah," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Eropa dan Asia Tengah, Philippe Le Houerou H. (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau