3 Hak Sepatu Paling Berbahaya

Kompas.com - 01/09/2011, 12:53 WIB

KOMPAS.com - Nasib kurang baik pernah terjadi pada penyanyi senior Aretha Franklin. Tanpa sengaja ia menginjak hak sepatu Jimmy Choo-nya, dan akhirnya dibawa ke rumah sakit karena jari kakinya retak. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada petenis Kim Clijsters, yang April lalu jaringan ligamen pada pergelangan kakinya robek ketika tanpa sengaja ia menginjak kaki orang lain dengan mengenakan sepatu berhak tinggi. Akibat kejadian itu, Kim tak boleh menggerakkan kakinya selama sebulan.

Dua kejadian ini menunjukkan, sepatu berhak tinggi bisa sangat berbahaya meskipun sedang tidak Anda pakai. Beberapa pakar sepatu juga mengatakan, ada tiga jenis hak sepatu yang mencatat angka kecelakaan lebih tinggi daripada jenis lainnya. Berikut tiga jenis hak tersebut, dan apa pilihannya jika Anda tidak mengenakannya.

* Platform wedge
Sepatu sol tebal ini memang populer lagi sekarang, namun tergolong sol yang berbahaya karena platform yang lebar tersebut tidak memberikan fleksibilitas pada bagian kaki. Cidera yang paling sering dialami penggunanya menyebabkan kondisi "ballet break". "Hal itu terjadi ketika Anda tergelincir ke sisi samping kaki, sehingga menimbulkan fraktur stres," ujar Meghan Cleary, pakar sepatu dari shoeareyou.com.

Solusi: Mini wedge
Agar bisa jalan-jalan di mall dalam waktu lama tanpa terasa capai, pilih saja sepatu dengan dukungan lebih pada bagian tumit sehingga Anda tidak akan berisiko mengalami keseleo pada pergelangan kaki. Mengurangi tinggi hak sepatu akan membantu meminimalkan jarak dari posisi kaki berdiri tegak dengan ketika jatuh.

* Pencil heels
Christian Louboutin boleh dibilang salah satu "provokator" untuk sepatu dengan hak yang menjulang tinggi. Hak yang setipis ini merupakan salah satunya, dan sangat berbahaya karena orang tidak memiliki naluri keseimbangan saat berdiri di atas hak tersebut, demikian menurut Dr Rock Positano, Direktr Non-Surgical Foot Service di The Hospital for Special Surgery. "Lagipula, hak yang sangat tipis akan mendesak tendon achilles, sehingga menyebabkan masalah pada kaki, sekaligus punggung dan lutut," katanya.

Solusi: Hak yang lebih tebal
Hak yang lebih tebal tidak akan begitu menekan pada jari-hjari kaki, sehingga memungkinkan lebih banyak keseimbangan. Jika Anda masih cinta sepatu Louboutin, perancang Perancis ini juga masih menyediakannya kok.

* Hak di atas 7,5 cm
Hak sepatu di atas 7,5 cm kerap menyebabkan cidera, saat digunakan untuk menari atau berjalan terlalu lama. Semakin tinggi haknya, artinya semakin kurang keseimbangannya. Ketika tergelincir, pergelangan kaki akan cidera dan mengakibatkan retakan atau robekan pada jaringan pengikat sendi. Bahkan, ada pula orang yang mengalami patah tulang gara-gara hak sepatu. "Cidera paling parah yang saya tangani adalah seorang wanita yang pergelangan dan kakinya patah dalam tiga tempat yang berbeda setelah ia menari dengan sepatu tersebut," ujar Dr Positano.

Solusi: Sepatu datar
Berbagai department store saat ini menyediakan beragam model sepatu datar yang trendi. Untuk jalan-jalan, kenakan saja sepatu jenis ini. Sepatu model ballet shoes juga mudah dilipat dan dibawa ke dalam tas, sehingga jika sepatu hak tinggi yang Anda kenakan mulai terasa melelahkan, Anda bisa menggantinya dengan sepatu datar. "Tidak ada yang salah dengan memakai sepatu hak tinggi, selama Anda mengenakannya dengan pintar," kata Dr Positano.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau