Konferensi

Para "Teman Libya" Berkumpul di Paris

Kompas.com - 01/09/2011, 18:05 WIB

KOMPAS.com - Libya dengan Dewan Transisi Nasional (NTC) bakal menjadi bancakan negara-negara besar. Buktinya, negara-negara yang dijuluki "teman Libya" itu berkumpul di Paris mulai Kamis (1/9/2011). Tuan rumah dalam pertemuan itu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bakal duduk bareng dengan mitranya seperti Inggris, China, dan Rusia. Tak ketinggalan, Amerika Serikat tentunya.

Pertemuan ini berlangsung bersamaan dengan 42 tahun kepemimpinan Kolonel Moammar Khadafy sejak dia memimpin kudeta yang menjatuhkan Raja Idris.

Warta AP dan AFP pada Kamis (1/9/2011), ada sekitar 60 negara yang bertandang ke pertemuan itu. Hadir juga di situ Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.  Dalam pertemuan ini, NTC akan meminta bantuan untuk pembangunan kembali keamanan di negeri itu dan juga persiapan menuju demokrasi.

Sejatinya, kebutuhan paling mendesak di Libya adalah pemulihan kembali sejumlah layanan dasar, seperti listrik, air, dan bahan bakar di beberapa kota besar serta pasokan pangan maupun gaji para pekerja.

Amerika Serikat sudah mengatakan kredibilitas NTC tergantung dari kemampuan dalam menangani masalah-masalah mendesak tersebut.

Ancaman

NTC masih menghadapi ancaman keamanan karena Kolonel Moammar Khadafy belum tertangkap. Sementara putranya, Saif al-Islam, kembali menyatakan tekad untuk melawan sampai mati.

Walau berlangsung singkat, pertemuan Paris bisa menjadi forum negara-negara pendukung NTC untuk memperlihatkan bahwa NTC mendapat tempat di panggung internasional. Bagaimanapun pertemuan Paris diharapkan bisa membuka rencana dalam transisi menuju demokrasi, upaya rekonstruksi, maupun isu-isu lain seperti pelatihan polisi Libia.

NTC juga diperkirakan akan meningkatkan tekanan untuk mencairkan lebih banyak aset Libya yang selama ini dibekukan. NTC pun bakal menegaskan bahwa dukungan NATO masih diperlukan dalam memberantas kantung-kantung yang masih dikuasai pendukung setia Khadafy.

Pada Rabu (30/8/2011) uang tunai senilai £140 juta diterbangkan dari Inggris menggunakan pesawat Angkatan Udara Inggris untuk diserahkan kepada Bank Sentral Libya. Pengiriman itu merupakan gelombang pertama dari total uang tunai sebanyak £950 juta, yang selama ini dibekukan pemerintah Inggris.

Lalu, pada Kamis ini, Perancis mengumumkan sudah mendapat persetujuan untuk mencairkan dana pemerintah Libia sebesar 1,5 miliar Euro kepada NTC.

NTC pun mendapat dorongan dalam dunia diplomasi internasional dengan munculnya pengkuan dari pemerintah Rusia. "Negara kami sudah menjalin dan meneruskan hubungan diplomatik dengan Libia sejak 4 September 1955 tanpa pernah terputus, terlepas dari pemerintah yang berkuasa di Tripoli," seperti tertulis dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Sementara China, pengkritik kadar serangan udara pimpinan NATO di Libya dan pemilik investasi besar di Libya, mengatakan akan mengirimkan wakil perdana menteri ke pertemuan Paris.

Aljazair yang mendapat kritik dari NTC karena menampung istri dan ketiga anak Khadafy  mengatakan siap untuk mengakui NTC jika pemerintahan sudah terbentuk dan mengaku tidak pernah mempertimbangkan untuk menerima Khadafy.

NTC sudah memberikan ultimatum kepada para pendukung setia Khadafy untuk menyerah hingga Sabtu 3 September atau menghadapi aksi militer.  
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau