Kultur

China Bangun Museum Teh Tibet

Kompas.com - 02/09/2011, 16:24 WIB

KOMPAS.com - Promosi Tibet oleh China bakal memunculkan satu ikon baru. Menurut rencana, pada 2013, China membuka sebuah museum teh Tibet. Gedung yang menempati area seluas 2,66 hektare tersebut berada di ibu kota Tibet, Lhasa. Sampai kini, dalam hemat China, Tibet adalah wilayah otonominya.

Menurut warta Xinhua pada Jumat (2/9/2011), budaya minum teh Tibet sudah ada sejak 1.300 tahun silam. "Perusahaan kami menginvestasikan 15,67 juta dollar AS atau 100 juta yuan untuk pembangunan museum tersebut," kata Direktur Utama The China Tibetan Tea Union Company Ltd Wang Huan.

Andai terealisasi, museum tersebut adalah pertama di wilayah China yang fokus pada budaya minum teh Tibet. Budaya itu sudah tercatat sejak zaman Dinasti Tang pada tahun 618-907.

Teh Tibet, khususnya saat itu, menjadi komoditas penting di jalur perdagangan di kawasan barat daya China. Jalur perdagangan dengan transportasi andalan kuda tersebut membentuk kehidupan sosial, budaya, dan perekonomian di situ.

Budaya minum seduhan potongan teh yang sudah difermentasi dengan mentega menjadi ciri khas warga Tibet dan minoritas warga China di wilayah barat daya Negeri Tembok Raksasa.
 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau