Berdasarkan pantauan Kompas, sejumlah titik di jalur pantai utara (pantura) hingga Sabtu pukul 21.30 dipadati kendaraan pemudik. Sejumlah pemudik yang membagi informasi melalui akun Twitter @mudikkompas juga menggambarkan hal yang sama.
Tol Jakarta-Cikampek terpantau macet sepanjang 5 kilometer (km) dari Km 67 hingga Km 62. Kendaraan melaju dengan kecepatan 10-20 km per jam. Kemacetan terjadi karena arus kendaraan dari Bandung lewat Tol Purbaleunyi bertemu arus dari Pintu Tol Cikampek. Bahu jalan pun dilalui sehingga arus kendaraan di tol menjadi empat lajur dari seharusnya tiga lajur. Kendaraan bahkan sesekali berhenti.
Kepadatan di Cikampek ini menjadi muara arus sejak dari Jawa Tengah (Jateng). Dari Bawen ke Ungaran, misalnya, lalu lintas macet hingga tiga lajur. ”Dari kota Boyolali mau mudik lewat Semarang, sudah dua jam baru sampai pasar Ampel (Boyolali),” kata Zilla, warga Boyolali.
Dari Brebes menuju Pejagan, kendaraan merayap dengan kecepatan 10 km per jam. Antrean kendaraan antara lain terjadi di ruas kota Brebes, simpang tiga Pejagan, dan Ketanggungan.
Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kabupaten Brebes mencatat, arus kendaraan keluar Jateng melalui Brebes mulai pukul 07.00 hingga pukul 19.00 mencapai 69.976 kendaraan atau sekitar 6.000 kendaraan setiap jam, sekitar 71 persennya adalah sepeda motor.
”Kecepatan kendaraan hari ini antara 20 hingga 30 km per jam dan 50 hingga 60 km per jam,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Sumut Komisaris Besar Bimo Anggoro Seno, yang bertugas di Cikopo.
Kepadatan terutama terjadi di Kaliasin hingga Simpang Jomin, Cikampek, Jawa Barat, terutama karena arus balik kendaraan roda dua dan roda empat yang jadi satu. Kecepatan kendaraan 10 km per jam hingga 20 km per jam.
Dari pantauan pada CCTV Posko Nasional Angkutan Lebaran Terpadu Kementerian Perhubungan, pada siang hingga sore hari, kepadatan tampak di Comal, Pejagan, Jomin, dan Patrol.
Bambang Prasetyawan (31), pemudik dari Jawa Timur yang ditemui di Cikampek, mengusulkan adanya pemisah jalan untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Kecelakaan sering terjadi karena kendaraan dengan kecepatan berbeda dicampur.
Arus balik yang melewati jalur selatan dan jalur tengah juga
Seorang pemudik, Jani (43), mengeluhkan kemacetan di Gombong. Ia menempuh waktu empat jam hanya dari kota Kebumen menuju Gombong yang jaraknya sekitar 10 km. ”Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel di Gombong,” katanya ketika dihubungi.
Berdasarkan pantauan Kompas, jalan di Kebumen hingga Gombong memang sempit. Namun, kepadatan terus terjadi di Ajibarang hingga Bumiayu.
Sementara itu, kapasitas angkutan bus hingga kemarin baru terisi sekitar 70 persen. Untuk itu, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengimbau, sisa 30 persen kapasitas yang masih tersedia dapat dimanfaatkan oleh para pemudik untuk kembali ke Jakarta.
“Melihat kapasitas yang masih tersisa, bus dapat dijadikan alternatif moda untuk arus balik kali ini,” ujar Bambang di Solo.
Di Terminal Tirtonadi, Kota Solo, jumlah penumpang berangkat sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi terus meningkat. Dengan adanya kenaikan jumlah penumpang tersebut, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Terminal Tirtonadi MV Djammila berujar, sejak Jumat, mulai diberangkatkan bus tambahan, yaitu bus pariwisata. Sebanyak 10 bus tambahan mengangkut 450 penumpang. Pada Sabtu diberangkatkan 21 bus dengan 965 penumpang.
Bambang mengatakan, jumlah penumpang arus balik yang memanfaatkan jalan darat, baik menggunakan bus maupun kendaraan pribadi diperkirakan mencapai sekitar 9 juta orang.
Masyarakat pengguna jasa angkutan mudik dan balik dengan Kapal Republik Indonesia (KRI) meminta pemerintah dan TNI Angkatan Laut meneruskan program angkutan Lebaran menggunakan kapal perang. Meski waktu tempuh lama, mudik dan balik menggunakan KRI aman serta nyaman.
Prayoga (46), warga Kabupaten Boyolali, Sabtu, di Semarang, mengaku merasa aman saat mudik dan balik dengan menumpang KRI. Waktu tempuh yang lama dapat dimanfaatkan untuk beristirahat.
”Berbeda kalau menggunakan sepeda motor, badan lelah, panas, berdebu, dan harus konsentrasi. Di kapal perang, saya bisa melihat pemandangan laut, tiduran, dan mengagumi KRI,” kata pria yang tahun lalu mengalami kecelakaan sepeda motor di Pemalang itu.
Adit (42) menambahkan, mudik dan balik naik KRI menghemat biaya bensin Jakarta-Semarang, Rp 45.000, dan biaya makan Rp 100.000. Uang itu bisa dimanfaatkan di kampung atau modal saat balik ke perantauan.
KRI Banjarmasin 592 kemarin kembali digunakan sebagai angkutan Lebaran Semarang-Jakarta khusus bagi pemudik bersepeda motor. Pada arus balik, KRI yang dikomandani Letnan Kolonel (L) Eko Jokowiyono mengangkut 213 sepeda motor dan 527 penumpang. Pada 28 Agustus, kapal ini mengangkut 298 sepeda motor dan 690 pemudik dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Tanjung Emas.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Leon Muhammad menegaskan, program itu akan diteruskan tahun depan.
Dari Bakauheni dilaporkan, antrean kendaraan mulai terlihat, Sabtu. Diperkirakan hingga Minggu pagi, kendaraan terangkut 80.000-90.000 unit dari Bakauheni. Sementara di Merak, arus pemudik yang naik feri tidak seramai di Bakauheni. Jumlah penumpang dari Merak kemarin mencapai 33.709 orang.
Menurut Bambang Susantono, pemudik dengan angkutan kereta api diperkirakan akan membeludak mencapai 3 juta orang, jauh lebih banyak dari jumlah penumpang yang datang saat arus mudik, 1,8 juta orang.
Adapun kapasitas yang tersedia untuk angkutan udara mencapai 2,5 juta penumpang dan diperkirakan pada arus balik ini akan meningkat sekitar 15 persen. ”Sejauh ini, kami sudah bersiap menambah penerbangan ekstra sesuai dengan kebutuhan arus balik,” ujar Bambang.