Kereta komuter

Tempat Penyimpanan KRL Harus Ditambah

Kompas.com - 05/09/2011, 03:01 WIB

Jakarta, Kompas - Penambahan kereta rel listrik belum diikuti dengan penambahan tempat penyimpanan kereta. Padahal, kapasitas penyimpanan kereta yang tersedia saat ini, sudah semakin menipis.

Saat ini, ada 50 unit kereta rel listrik (KRL) bekas yang baru diimpor dari Jepang. Total, akan ada tambahan 130 unit KRL yang didatangkan pada 2011. Jumlah kereta yang baru tiba itu akan memperkuat 418 unit KRL yang beroperasi. Penambahan kereta akan terus dilakukan karena direncanakan KRL Jabodetabek mengangkut penumpang 1,2 juta orang per hari pada 2019.

Selama ini, 418 KRL disimpan di beberapa tempat penyimpanan kereta, yakni di Balai Yasa Manggarai, di tiga depo, dan di lima subdepo di wilayah Jabodetabek. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan, Balai Yasa dan depot juga menjadi tempat perawatan dan perbaikan KRL. Kondisi penyimpanan kereta di setiap tempat itu sudah padat.

Sekretaris Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Makmur Syaheran, Minggu (4/9), mengatakan, tempat penyimpanan KRL sudah hampir penuh terisi kereta yang ada. ”Persoalan ini harus segera dicarikan pemecahannya agar rencana peningkatan kapasitas angkut KRL tidak tertunda lagi,” katanya.

160 unit per tahun

Tahun 2012, PT KCJ berencana menambah lagi KRL sejumlah 160 unit. Tahun 2013 dan 2014, jumlah KRL yang akan didatangkan ke Jakarta juga sama, yakni 160 unit per tahun.

Apabila ketersediaan kereta di Jepang bisa mencapai 200 unit, tidak tertutup kemungkinan ada penambahan KRL yang dikirim ke Jakarta. Penambahan armada ini diharapkan bisa mengantisipasi 6 persen peningkatan penumpang KRL per tahun.

Sementara, penambahan depo KRL terakhir dilakukan tahun 2008, dengan diresmikannya Depo Depok. Depo ini tergolong depo terbesar yang menjadi tempat penyimpanan KRL, serta perbaikan rutin harian, bulanan, triwulan, dan enam bulanan. Depo Depok yang mempunyai kapasitas penyimpanan 224 KRL, kini sudah diisi 216 KRL setiap hari.

Apabila percepatan ini tidak didukung dengan penambahan lokasi penyimpanan kereta, kereta yang baru datang justru akan menimbulkan masalah. ”Padahal kita berkejaran dengan waktu untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna kereta,” tutur Makmur.

Dukungan pemerintah atas KRL bisa terlihat dari besaran anggaran yang dialokasikan untuk penambahan prasarana, termasuk depo KRL. Manajer Humas PT KAI Daop 1 Mateta Rijalulhaq mengakui, keterbatasan tempat penyimpanan KRL sebagai satu masalah yang mesti dipecahkan bersama. Selama ini, kewenangan pembangunan depo KRL di pemerintah pusat.

”Sebenarnya ada beberapa tanah milik PT KAI yang bisa digunakan untuk depo KRL, semisal di kawasan Pisangan, Jakarta Timur. Namun, untuk membangun harus ada izin dari Kementerian Perhubungan.”

Selain depo, peningkatan daya angkut KRL Jabodetabek juga menghadapi berbagai masalah, seperti penambahan gardu listrik dan banyaknya perlintasan sebidang. Persoalan ini seharusnya sudah diselesaikan apabila ingin menjadikan KRL sebagai tulang punggung transportasi komuter Jabodetabek. Apalagi pertumbuhan penduduk di daerah sekitar Jakarta semakin pesat dan membutuhkan transportasi massal untuk mengakomodasi perjalanan saban hari. (ART)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau