Rawan pangan

Mereka Bertahan dengan Buah Asam

Kompas.com - 05/09/2011, 03:20 WIB

Kornelis Kewa Ama

Tiga anjing dengan kulit membungkus tulang menggonggong tamu di jalan masuk rumah milik Yane Mone (39) di Desa Oeikiu, Kecamatan Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Di halaman rumah itu, dijemur buah dan biji asam tak beraturan.

Buah asam itu mereka jual dalam bentuk gumpalan daging buah. Adapun biji asam yang ditinggalkan disisakan untuk cadangan pangan mereka.

Sekitar 5 kilogram (kg) daging buah asam dikumpulkan oleh tiga anak Yane Mone selama tiga pekan terakhir dari hutan-hutan di sekitar Desa Oeikiu. Mereka adalah Anton Nabu Mone (12), Mery Nabu (9), dan Moses Nabu Mone (8).

Biasanya mereka berangkat ke hutan untuk mencari buah asam seusai pelajaran sekolah. Namun, hari itu adalah libur Idul Fitri sehingga mereka pergi ke hutan pada pagi hari.

Ketika ditemui di kediaman mereka di Desa Oeikiu, Rabu (31/8) pukul 15.30, ketiga bocah itu baru kembali dari hutan. Mereka kelaparan karena sejak pagi belum sarapan. Sambil duduk bersila di tanah beralaskan tikar lontar, mereka dengan lahap memakan nasi dan sayur sawi rebus yang disiapkan Yane.

Namun, ketiga bocah ini mendadak malu saat Kompas menghampiri. Nasi (beras) itu dibeli Yane Mone tiga hari lalu di pasar tradisional Batu Putih, 25 kilometer (km) dari Oeikiu. Ia membeli beras 3 kg seharga Rp 22.500 dan sayur sawi tiga ikat dengan harga Rp 5.000.

Beras dan sayur itu biasanya dihabiskan mereka dalam 3-4 hari. ”Nasi sayur ini saya prioritaskan untuk anak-anak. Kalau ada sisa, saya makan. Kalau tidak, saya makan biji asam. Kadang anak-anak juga makan biji asam. Hanya saya kasihan sama mereka,” ujarnya.

Jumlah penduduk yang terancam kelaparan di Kabupaten Timor Tengah Selatan tersebar di 150 desa, di 32 kecamatan, meliputi 179.900 jiwa. Kini mereka mengonsumsi biji asam dan putak, semacam sagu dengan bahan dari pohon gewang.

Selain di kabupaten Timor Tengah Selatan yang terletak di Pulau Timor, ribuan penduduk di Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Ngada, dan di Desa Waekokal, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo—tiga daerah terakhir berada di Pulau Flores—juga menderita kelaparan.

Di Desa Uluwae, Kecamatan Bajawa Utara, Ngada, 180 kepala keluarga yang terdiri atas 720 jiwa menderita kelaparan. Mereka semua adalah keluarga transmigran di Unit Pelaksana Teknis Daerah Transmigrasi Uluwae yang kelaparan sejak Juni 2011.

Di Sumba Timur, pemerintah kabupaten mulai mendistribusikan beras bantuan cadangan, ke 74 desa di wilayah rawan pangan. Daerah-daerah tersebut mengalami rawan pangan karena kekeringan.

Yane tentu saja tak paham apa itu global warming. Ia adalah salah satu dari ribuan warga di pesisir selatan Kabupaten TTS yang sedang diterpa rawan pangan kambuhan. Gagal panen dan bencana longsor tahun ini adalah penyebab utamanya.

Ia tidak ikut ke hutan bersama anak-anaknya karena sedang sakit. Padahal, ayah anak-anak ini, Jery Nabu (46), merantau ke Malaysia sejak 2008. Tidak ada kabar berita, kecuali tahun 2010, ia sempat mengirim uang Rp 5 juta untuk membayar utang biaya keberangkatannya ke Malaysia.

Buah asam menjadi pilihan terakhir setelah semua jenis pangan gagal panen. Harga buah asam yang sudah dikeluarkan bijinya Rp 11.000 per kg, masih mengandung biji Rp 6.000 per kg. Harga itu paling tinggi dibandingkan dengan tahun 2009-2010, yang hanya Rp 3.000-Rp 5.000 per kg.

Ia mengingatkan ketiga putranya agar tetap tegar. Tidak boleh mencuri atau memungut asam di lahan warga lain. Jika kedapatan, mereka didenda satu ekor sapi, senilai Rp 5 juta.

Mereka harus pergi ke hutan, sekitar 2-3 km dari desa untuk mendapatkan asam yang tumbuh liar. Bocah-bocah ini sudah terbiasa masuk keluar hutan. Sebelumnya, Juni-Juli, mereka juga masuk keluar hutan mencari ubi hutan, tetapi ubi itu sudah habis. ”Sekarang ini pertahanan kami adalah buah asam. Biasanya asam dipanen bulan September-Oktober, tetapi bulan Agustus tahun ini, asam sudah mulai habis. Memasuki bulan September-Desember tahun ini, kami tidak punya apa-apa lagi,” kata Yane.

Mantan Kepala Desa Oeikiu, Yupiter Atinus Tuan, mengatakan, empat desa berdekatan di Amanuban Selatan, yakni Batnun, Oeikiu, Noemuke, dan Oebelo, sama-sama gagal panen. Bahkan seluruh desa di pesisir selatan TTS juga mengalami gagal panen.

”Warga tiga desa ini bergantung pada asam. Tetapi, buah asam sangat terbatas dibanding tahun lalu. Kini, asam sudah sulit dicari karena semua orang bergantung pada asam,” kata Atinus Tuan.

Biji asam disimpan untuk makanan terakhir setelah makanan lain habis. Tetapi, ada pula warga yang menjadikan biji asam makanan pokok saat ini. Biji asam yang sudah dikeluarkan dari daging buah, dijemur selama beberapa hari, kemudian digoreng setengah matang, disosoh (tumbuk) untuk mengeluarkan kulit luar (warna merah kecoklatan) untuk mendapat biji asam putih. Biji putih ini direndam di dalam air selama 2-3 hari sebelum dikonsumsi.

Lain lagi, dengan upaya warga Amanuban Selatan menghadapi rawan pangan. Pemilik hutan gewang, sejenis tanaman palem, mengonsumsi putak. Tepung gewang ini disaring untuk mendapatkan bubur gewang, atau dijemur untuk mendapatkan tepung kering.

Renol Missa (46) dari Desa Batnun mengatakan, putak menjadi pilihan warga, tetapi juga mulai langka. Padahal dulu, putak hanya lazim untuk pakan babi dan sapi. Ada dua bungkus gewang yang djual di pasar tradisional: bungkusan 20 kg, dan 10 kg. Bungkusan 20 kg harganya Rp 50.000, sedangkan yang 10 kg harganya setengahnya.

Setelah umbi, dan biji asam, kini giliran gewang makin langka. Sebab, hanya gewang usia di atas 10 tahun penghasil putak yang bagus. Sekarang, sebagian besar tanaman gewang sudah ditebang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau