Pemulung dan Pengamen Jadi Korban Kebakaran

Kompas.com - 05/09/2011, 21:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran yang terjadi di Jalan H Musanif RT 05/RW 04, Kelurahan Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, petang tadi meluluhlantakkan puluhan rumah petak. Sebagian besar penyewa rumah berlantai dua tersebut adalah pemulung dan pengamen.

Seorang pemulung, Umar Faruk (66), mengakui bahwa dalam satu jam mampu api telah menyebar dan menghanguskan rumah petak yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga tersebut. "Awalnya saya ngaji. Tiba-tiba ada asap masuk, pas saya keluar tahunya sudah ada api jadi," ujar Umar, Senin (5/9/2011) di lokasi kejadian.

Ketika hendak keluar, Umar melihat api awalnya bermula dari sebuah kamar milik Torikun, yang ditinggal mudik ke Tegal. "Kemungkinan karena arus pendek," ujarnya.

Setelah itu, api merambat dengan cepat karena rumah-rumah kontrakan itu hanya berupa kamar mungil yang dibatasi oleh papan tripleks. "Di bawah juga banyak barang-barang bekas, kertas. Jadi memang pasti cepat merambat," kata Umar.

Umar mengatakan, sebagian besar penghuni rumah tersebut bekerja sebagai pedagang, pemulung, dan pengamen. Umar mengaku tak tahu harus tidur ke mana karena tempat tinggal yang telah ia tempati bertahun-tahun hangus rata dengan tanah.

"Mungkin saya mau ke masjid saja, nginap, karena saya enggak bisa selamatin apa-apa dan enggak tahu harus kemana. Hanya baju yang bisa diselamatin," ujar pria asal Madura itu.

Hal serupa juga dialami Tini, seorang pengamen. Ia mengaku baru tahu tempat tinggalnya terbakar saat sedang mengamen di sekitar Semanggi. Begitu mendapat kabar, ia langsung pulang ke rumah dan lemas melihat api sudah melahap seluruh bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu tripleks.

"Saya sendirian. Saya baru tahu pas saya ngamen. Saya cuma hidup sendiri selama sebulan ini," ujarnya berulang kali sembari berdiri di sebuah tiang meratapi rumahnya yang kian membara.

Saksi mengatakan, api mulai berkobar kira-kira pukul 18.30 dari rumah petak yang terdiri kamar-kamar yang dikontrak oleh para pemulung, pedagang, dan pengamen. Rumah petak itu terletak di belakang Plaza Semanggi dan depan Hotel Aston. Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 20.00 setelah aparat suku dinas pemadam kebakaran Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau