Perampokan

Mereka Merampok demi Memuaskan Hasrat Bermain "Game Online"

Kompas.com - 06/09/2011, 02:55 WIB

Dua remaja lelaki merampok toko binatu Aqualis Fabricare di Jalan Taman Aster Raya RT 05 RW 14 Perumahan Galaxy, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Minggu (4/9) pukul 14.00.

Mereka merampok demi mendapatkan uang untuk memuaskan hasrat bermain game online atau permainan virtual di warung internet.

TC (18) dan NIA (19) adalah kedua remaja yang khilaf itu. Keduanya dibekuk polisi Minggu malam secara terpisah di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi. TC ditangkap di rumahnya di Perumahan Kemang Pratama 2 Blok ZZ sekitar pukul 20.00. NIA diciduk dari angkutan kota di Jalan Siliwangi (Narogong) sekitar pukul 22.00 saat menuju Terminal Bekasi untuk melarikan diri.

Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Bekasi Selatan Inspektur Dua Kasran, kedua remaja itu mengaku kepada penyidik terdorong merampok untuk mendapatkan uang demi memenuhi hasrat bermain game online.

TC, siswa kelas III SLTA, kerap menghabiskan waktu bersama NIA di warung internet di kawasan Perumahan Kemang Pratama dari sore sampai pagi memainkan pelbagai program permainan. Kedua remaja ini sudah bersahabat sejak SMP.

Nyaris setiap hari keduanya sering menghabiskan waktu enam hingga sembilan jam di warung internet. Tarif warung internet Rp 3.000-Rp 5.000 per jam. Artinya, mereka bisa menghabiskan Rp 13.000-Rp 27.000 atau Rp 30.000-Rp 45.000 per hari. ”Uang saku tidak cukup,” tutur TC kepada penyidik.

Menurut Kasran, orangtua TC mengetahui anaknya sering pulang pagi. Keluarga juga sempat curiga TC menghabiskan waktu di tempat hiburan dan mengonsumsi narkotika, tetapi hal itu tidak terbukti. Ternyata, TC lebih suka menenggelamkan diri dalam permainan internet.

Kasran menduga kedua tersangka tidak punya cukup uang untuk bermain internet sepuasnya. Adapun NIA tidak sekolah dan belum bekerja sehingga setali tiga uang.

Terinspirasi film laga

Pengakuan NIA, dia juga terinspirasi film-film laga perampokan untuk merencanakan dan melaksanakan perampokan. ”Kami yang merencanakan (perampokan),” katanya.

Perampokan itu terjadi saat Aqualis Fabricare dijaga seorang karyawati bernama Ivana Tiurlan (32). TC dan NIA memanfaatkan suasana sepi di Jalan Taman Aster Raya, berharap aksi mereka tak diketahui masyarakat.

Menurut Ivana, Minggu siang, kedua remaja itu mendatangi dirinya dan berpura-pura menanyakan apakah titipan pakaian yang ditaruh pada Jumat atau dua hari sebelumnya sudah siap diambil. Ketika ia mengecek pesanan dalam catatan, NIA mengeluarkan dan menodongkan pisau. ”Saya diancam mau dibunuh,” katanya.

Ia juga kemudian ditarik paksa dan diikat di belakang lemari pakaian. Ia tidak berkutik sebab ditodong NIA, sedangkan TC menguras isi laci berisi uang sekitar Rp 450.000.

Kedua remaja itu juga merampas dompet dan anting Ivana serta empat telepon seluler sebelum kabur dengan sepeda motor Suzuki berpelat nomor B 6674 SUM.

Setelah perampok kabur dan berhasil melepaskan ikatan, Ivana segera melapor kepada petugas satuan pengamanan terdekat yang kemudian menghubungi Polsek Bekasi Selatan.

Dari olah tempat kejadian perkara dan pengakuan Ivana, diketahui tempat tinggal tersangka di Kemang Pratama.

”Setiap konsumen dicatat alamat dan nomor teleponnya sehingga bisa dilacak,” kata Kasran.

Berdasarkan catatan itu, petugas mengintai rumah TC dan menjumpai sang kakak pada Minggu sore. Saat rumah didatangi, TC tak berada di tempat, sedang bersembunyi. Namun, sang kakak berhasil membujuk TC pulang. TC pun berhasil dibekuk.

Selanjutnya, karena mungkin terdesak, TC bersedia membantu polisi untuk berkomunikasi dengan NIA. Dari komunikasi per telepon itulah posisi NIA bisa diketahui dan akhirnya tertangkap.

Belajar dari kasus ini, semua orangtua perlu lebih memperhatikan benar aktivitas anaknya yang masih remaja dan menjalin komunikasi intensif sehingga kasus serupa tak banyak terjadi. (Ambrosius Harto Manumoyoso)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau