TOKYO, KOMPAS.com - Ribuan orang masih telantar di Jepang barat, Selasa (6/9/2011), sementara jumlah korban tewas mencapai 41 orang akibat topan dahsyat yang menambah kesengsaraan pada negara yang telah dilanda gempa dan tsunami Maret lalu.
Hujan lebat akibat Topan Talas yang kuat dan paling banyak menelan korban jiwa dalam tujuh tahun, menyebabkan sungai-sungai meluap dan tanah longsor yang menghantam gedung-gedung, rumah-rumah dan jalan-jalan. Lebih dari 50 orang masih hilang, kata pihak pejabat lokal kepada AFP.
Sementara polisi, para petugas pemadam kebakaran dan pasukan pertahanan diri warga yang dilaporkan hilang. Sedangkan pemerintah setempat berencana mendrop dari pesawat makanan dan air bersih untuk mereka yang terdampar akibat bencana alam tiu.
Di daerah yang paling parah Wakayama, sekitar 4.500 orang masih tetap terdampar dan tidak dapat dihubungi akibat jalan-jalan yang rusak, kata seorang pejabat lokal.
Di desa Totsukawa, Nara, lebih dari 400 orang terlantar di tempat-tempat pengungsian sementara akses rute sebagian besar terputus dan tiang-tiang telepon tumbang d sebagian besar desa itu, kata seorang pejabat lokal.
"Setelah mengangkut 1.000 liter air minum melalui helikopter, kemarin, kami juga berencana akan mengiirim beras, makanan siap saji dan air minum Selasa petang," kata pejabat itu.
Usaha pertolongan diperkirakan akan dilakukan lagi," kata pejabat itu.
Talas, yang meninggalkan Jepang, Minggu (4/9/2011), sejak itu menurun kekuatannya menjadi badai tropis tetapi sisa-sisanya masihdalam sistem cuacanya yang memiliki dampak yang sama dengan Topan Noru, yang terus menurunkan hujan lebat d Jepang utara.
Badai itu terjadi setelah Perdana Menteri Yoshihiko Noda dilantik Jumat menggantikan Naoto Kan, yang mendapat kecaman keras setelah gempa dan tsunami dan musibah nuklir 11 Maret.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang