Tol Purbaleunyi Perlu Dianalisis

Kompas.com - 08/09/2011, 02:38 WIB

Purwakarta, Kompas - Berulangnya kecelakaan lalu lintas di Kilometer 93+100 Jalan Tol Purbaleunyi di wilayah Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (7/9) pagi, mendorong sejumlah pihak untuk mewaspadai dan menganalisis konstruksi sejumlah titik rawan di jalan tol tersebut.

Reaksi itu muncul setelah Rabu pukul 04.45 terjadi kecelakaan yang mengakibatkan 6 orang tewas dan 12 orang mengalami luka-luka setelah minibus travel berisi 18 orang menabrak truk di Kilometer (Km) 93+100 saat para penumpang lelap tertidur. Lokasi kecelakaan berjarak sekitar 3 km dari lokasi kecelakaan yang menimpa keluarga artis Saipul Jamil, Sabtu pekan lalu.

Sabtu lalu, kecelakaan tunggal terjadi di Km 96, menimpa mobil Toyota Avanza yang dikemudikan artis Saipul Jamil dan menimbulkan korban meninggal dunia, yaitu istri Saipul, Virgina Anggraeni (23).

Polisi masih menyelidiki penyebab kejadian, tetapi sopir Sigit Aris Sugito (33) mengaku mengantuk dan terkejut saat ada truk melaju pelan di depannya. Minibus biru bernomor B 2013 YX dan bertuliskan ”PT Citra Eksekutifindo Tour & Travel” itu ringsek di bagian kiri. Kaca, bangku, dan kap sisi kiri hancur dan tergulung akibat benturan keras, sementara tiga baris bangku di depan bergeser dari posisi semula.

Keenam korban meninggal adalah penduduk Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang hendak kembali ke Jakarta setelah libur Lebaran. Sebagian di antaranya mengaku baru pertama kali berangkat ke Jakarta, mengikuti saudara atau teman satu kampung mengadu nasib di Ibu Kota.

Keenam korban tewas itu adalah Dalman Hasan (53), warga Desa Banioro; Mutoharoh (19), warga Desa Sembada; Novi Anjani (23) dan Ny Atun (33), warga Desa Tlepok; Suminten (30), warga Desa Langse; dan Sunaryo Gatot (48), warga Jakarta Selatan.

Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Purwakarta Ajun Komisaris Sudewo mengatakan, polisi belum menemukan identitas truk yang ditabrak dari belakang karena truk kabur setelah kejadian.

Detail kerawanan

Kepala Divisi Pengemudi Travel City Trans Ananta Nur di Bandung, Jawa Barat, mengemukakan, Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang)—yang di dalamnya meliputi ruas Jalan Tol Purbaleunyi—memiliki 5 titik rawan kecelakaan dan 7 titik rawan ambles. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan pengemudi dan kendaraan di satu sisi. Di sisi lain, perlu perbaikan infrastruktur jalan untuk mencegah kecelakaan lalu lintas di jalan tol yang menghubungkan Jakarta-Bandung tersebut.

Pernyataan Ananta Nur merupakan kajian rutin setiap bulan perusahaan transportasi umum Bandung-Jakarta PP itu terkait dengan tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas di Tol Cipularang. Kajian internal itu selalu diberikan kepada para pengemudi City Trans sebagai bahan pelatihan per enam bulan. ”Dari kajian kami, potensi utama kecelakaannya di Km 92 sampai Km 104,” kata Ananta.

Menurut Ananta, titik rawan berada di Km 92-Km 93, dari Jakarta menuju Bandung. ”Di sana terdapat dua tikungan tajam dengan sudut sekitar 80 derajat selepas jalan menurun dengan kecuraman sekitar 20 derajat. Pengemudi yang tidak berpengalaman biasanya kesulitan mengemudikan kendaraan saat hendak melewati tikungan itu. Titik rawan lain adalah di Km 95 yang lurus dengan panjang sekitar 2 km. Di titik ini, pengemudi biasanya mudah mengantuk akibat jenuh melintasi jalan lurus.

Selanjutnya, Ananta mengatakan, Km 96-Km 97 adalah rute paling rawan. Dalam empat hari terakhir, tujuh orang meninggal dunia. Satu korban tewas terjadi pada 3 September 2011 dan enam orang tewas pada 7 Agustus 2011.

Menurut Ananta, titik ini sangat rawan karena kontur jalan menurun dengan kecuraman sekitar 20 derajat dilanjutkan dengan tikungan tajam 70-80 derajat. Meski tidak terlalu curam, rute ini sangat berbahaya apabila kendaraan melaju dengan kecepatan di atas 100 km per jam. Pengemudi berpotensi kehilangan kendali kemudi saat hendak melewati tikungan.

Tingginya tingkat kerawanan di Km 96-Km 97 juga dibenarkan Didin Saprudin (35), pengemudi Travel Cipaganti jurusan Bandung-Jakarta. Faktor kerawanan lain di rute itu adalah jalan yang juga bergelombang. Hal ini kerap memberi efek buruk bagi mobil dengan kondisi tidak prima.

Titik rawan lain adalah Km 103-Km 101. Di jalan lurus sepanjang 2 km ini, banyak kendaraan kehilangan keseimbangan saat melintasi Km 100. Penyebabnya adalah sambungan jembatan yang lebih rendah ketimbang jalan utama. Sambungan itu juga memicu genangan air saat musim hujan. Akibatnya, tidak sedikit mobil yang mengalami selip ban saat melintasi rute itu.

”Titik rawan terakhir adalah Km 104. Jalan ini juga berupa tikungan tajam sekitar 80 derajat. Rute ini bisa jadi fatal dan memicu kecelakaan. Beberapa kali saya melihat secara langsung banyak mobil selip ban dan sulit mengendalikan kendaraan saat melintas di sana,” kata Didin.

Pakar transportasi dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Ofyar Z Tamin, mengingatkan, tidak seharusnya menuduh Tol Cipularang tidak layak pakai. Potensi kecelakaan bisa dicegah apabila pengemudi berhati-hati dan mempersiapkan kondisi kendaraan dengan baik.

Menurut Ofyar, kecelakaan lalu lintas di jalan tol dipicu antara lain kendaraan dipacu terlalu kencang, kondisi kendaraan tidak prima, dan perlunya perbaikan infrastruktur jalan.

Tetap aman

Kepala Humas PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Iwan Mulyawan mengemukakan, ruas Purbaleunyi secara keseluruhan aman dilalui, termasuk Km 88-Km 100 yang memiliki karakteristik tanjakan dan turunan landai. Ruas itu juga telah dilengkapi penerangan dan rambu sesuai dengan kondisi lokasi, seperti tanjakan, turunan, serta imbauan waspada angin samping dan kabut. Di antara Km 91 dan Km 93 bahkan telah ditambahkan 30 tiang penerang dengan daya masing-masing 1.000 watt sehingga jalan terang pada malam hari.

Iwan Mulyawan menambahkan, lebih dari 90 persen kecelakaan terjadi karena faktor pengemudi dan kondisi kendaraan. Beberapa penyebab di antaranya pecah ban, sopir mengantuk, dan kurang antisipasi.

Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito mengatakan, Jalan Tol Cipularang telah dibangun dengan standar internasional. Dengan demikian, keselamatan berkendara di tol itu sebenarnya telah dipastikan. Keselamatan berkendara tinggal tergantung dari kemampuan pengemudi.

”Dalam pembangunan tol itu, kami juga telah memenuhi ketentuan-ketentuan konstruksi yang digariskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Sengaja dibuat tikungan dan kelokan memang supaya jalan tol itu tidak terlalu curam sehingga dapat didaki,” kata Frans.

Terkait dengan kecelakaan di Km 93 Tol Cipularang, Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga Tbk Okke Merlina menampik bahwa kecelakaan disebabkan oleh tidak beresnya konstruksi jalan di Cipularang. Okke juga mempersilakan siapa pun untuk melihat rambu peringatan di ruas tol itu.(MKN/CHE/NAW/YUN/RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau