PALEMBANG, KOMPAS.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan memberlakukan masa tanggap darurat bencana asap. Kabut asap akibat pembakaran lahan telah menyebar di seluruh provinsi.
Tanggap darurat kabut asap diberlakukan bersamaan dengan rapat koordinasi kabupaten dan kota Sumsel untuk mencegah bencana asap di Palembang, Sumsel, Kamis (8/9/2011).
Pemadaman kebakaran lahan harus diintensifkan. Tanggal 12 September ini pemadaman kebakaran lahan akan dilakukan dari darat dan udara.
"Selama ini pemadaman baru dari darat," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Daerah Sumatera Selatan (Sumsel) Yulizar Dinoto.
Kabut asap di Kota Palembang, Sumatera Selatan, semakin pekat selama dua hari terakhir. Kamis (8/9/2011), kabut terlihat di hampir seluruh penjuru kota Palembang sepanjang hari. Sebelumnya, kabut asap hanya terlihat di pinggiran Palembang pada pagi hari.
Kabut asap juga terlihat cukup pekat di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pasca-terbakarnya 300 hektar lahan gambut di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang lokasinya berdekatan dengan bandara internasional tersebut. Namun, belum ada gangguan aktivitas penerbangan akibat asap.
Berdasarkan data satelit NOAA Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas (hot spot) di Sumsel, Rabu (7/9/2011), terpantau 92 titik. Sejak 1-7 September, jumlah titik panas di Sumsel telah mencapai 771 buah, jauh lebih tinggi dari titik panas selama bulan Juni sebanyak 354 titik.
Selama 20 hari terakhir, kebakaran lahan yang berhasil dipadamkan Manggala Agni Sumsel mencapai 374 hektar, sebanyak 55 persen merupakan lahan perkebunan sawit, 31 persen lahan masyarakat, dan 14 persen di kawasan hutan. Di Kabupaten Muara Enim, luasan lahan yang terbakar mencapai 150 hektar, terdiri dari lahan karet dan sawit.
Kasi Observasi dan Informasi BMKG Palembang Agus Santoso mengatakan, bencana asap akibat meluasnya kebakaran lahan seperti yang terjadi tahun 2007 dan 2009 berpotensi terjadi. Hal ini karena kemarau tahun ini sangat kering dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga dua bulan ke depan.
"Tahun 2009, aktivitas penerbangan di Palembang sempat terganggu hingga sekitar sebulan karena pekatnya asap. Kondisi cuaca pada kemarau tahun ini mirip dengan kemarau tahun 2007 dan 2009," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang