Terorisme

Waspadai Radikalisasi Diri

Kompas.com - 09/09/2011, 04:28 WIB

Nusa Dua, Kompas - Penyebaran radikalisme agama yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi saat ini tidak lagi mengarah ke tingkat kelompok masyarakat, tetapi langsung ke individu. Fenomena radikalisasi diri tersebut menjadi ancaman serius yang masih sulit diantisipasi.

Persoalan itu mengemuka dalam seminar internasional tentang deradikalisasi yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kamis (8/9), di Nusa Dua, Bali.

Seminar yang dibuka Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto itu bertujuan mencari rumusan program deradikalisasi yang efektif untuk mematikan ideologi radikal yang menyuburkan terorisme.

Bilveer Singh dari National University of Singapore mengatakan, radikalisasi diri adalah proses seseorang dalam mempelajari agama secara otodidak dengan sudut pandang ekstrem. Sumber pembelajaran didapat dari situs internet, buku, majalah, atau rekaman video yang dijual bebas.

”Radikalisasi diri muncul karena selama ini fenomena tersebut luput dari perhatian,” kata Bilveer. Upaya pemberantasan terorisme selama ini dilakukan dengan mengawasi tempat-tempat tertentu yang dicurigai sebagai sarang teroris. Oleh karena itu, jaringan teroris mencari cara baru untuk bertahan, yaitu memanfaatkan teknologi informasi.

Menurut Bilveer, radikalisasi diri ini sudah muncul di beberapa negara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Dalam penelitiannya, Bilveer menemukan lebih dari 6.000 situs internet bermuatan radikalisme agama.

”Radikalisasi diri ini menjadi sebuah proses perekrutan teroris yang informal, tanpa dilakukan dalam wadah organisasi,” katanya.

Kepala BNPT Ansyaad Mbai mengakui, keterbukaan informasi menjadi tantangan terberat dalam mencegah penyebaran radikalisme agama. Karena itu, dibutuhkan kerja sama dengan negara lain untuk menghentikan penyebaran radikalisme ini, terutama yang melalui internet.

Mohamed Feisal dari Religious Rehabilitation Group di Singapura mengatakan, radikalisasi diri ini dapat diantisipasi dengan berbagai cara. Di Singapura, beberapa tokoh agama rutin menemui mantan teroris untuk mematikan ideologi radikal itu.

Djoko Suyanto mengatakan, radikalisasi diri harus dihadapi dengan pendekatan yang komprehensif, melalui pendidikan dan juga sosial ekonomi (mengentaskan rakyat dari kemiskinan). (DEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau