Pengurangan emisi

Saatnya Indonesia Terapkan Standardisasi "Bangunan Hijau"

Kompas.com - 09/09/2011, 14:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini penerapan standardisasi konsep Green Building atau Bangunan Hijau belum populer. Padahal dengan menerapkan konsep ini, dari sisi ekonomi, keuntungannya sangat nyata dan terukur.

Chairperson Green Building Council Indonesia (GBCI), Naning Adiwoso, Jumat (9/9/2011) di Jakarta, menjelaskan sebuah bangunan gedung komersial yang mengikuti standar penilaian Greenship mampu melakukan penghematan energi antara 26 - 40 persen setiap bulan.

Penghematan ini bersumber dari berkurangnya penggunaan pendingin ruangan, penerangan gedung, dan penghematan penggunaan air. Greenship merupakan alat penilai GBCI yang menjembatani konsep bangunan ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan melalui implementasi nyata.

Lebih lanjut, diakui GBCI, penerapan standardisasi bangunan Hijau pada gedung-gedung komersial dianggap mahal. Padahal, dengan menerapkan "bangunan hijau" pengusaha properti maupun pengelola gedung memperoleh keuntungan dari penghematan biaya operasional.

Naning berharap pegiat properti Indonesia mulai menerapkan konsep "bangunan Hijau". Selain menguntungkan dari sisi ekonomi, langkah ini juga sejalan dalam pengurangan emisi karbon 2020.

GBCI merupakan Lembaga perdana dan masih menjadi satu-satunya yang diakui Kementerian Lingkungan Hidup dalam melakukan sertifikasi hijau di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau