Deklarasi Asosiasi Tradisi Lisan di Kendari

Kompas.com - 10/09/2011, 03:13 WIB

KENDARI, KOMPAS.com--Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Indonesia, Kamis, melahirkan sebuah kesepakatan keragaman budaya yang disebut dengan "Deklarasi Kendari" di Kendari, Sulawesi Tenggara.

"Deklarasi Kendari" ditandai penandatanganan naskah antara Ketua ATL Indonesia, Pudentia dan Rektor Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari Prof DR Ir Usman Rianse.

Deklarasi melibatkan etnis yang mendiami bumi Sulawesi Tenggara (Sultra), baik etnis lokal maupun etnis dari luar Sultra mulai dari Aceh sampai Papua yang ada di Sultra.

Deklarasi itu dilaksanakan dalam rangkaian pembukaan Workshop Internasional Cerebrating Dibersity (Perayaan Keragaman) yang dilaksanakan di Kendari.

Adapun etnis yang masuk dalam deklarasi itu diantaranya etnis Lokal Sultra yakni perwakilan etnis Tolaki, etnis Moronene, etnis Buton, etnis Muna, etnis Kalidupa, kemudian etnis dari luar Sultra yang mendiami Sultra seperti etnis Jawa, etnis Bugis, etnis Makassar, dan etnis Toraja.

Selain itu etnis Flores, etnis Lombok, etnis Banten, etnis Madura, etnis Sunda, etnis Bali, etnis Padang, etnis Batak, etnis Aceh, etnis Dayak, etnis Kutai, etnis Manado, etnis Bajo, etnis Ambon dan etnis Papua.

Ketua ATL Indonesia, Pudentia mengatakan, deklarasi ini salah satu tujuannya menyatukan berbagai etnis dalam satu bingkai kehidupan keragaman yang saling menghormati, membutuhkan serta menjadikan keragaman menjadi perekat kegidupan sosial budaya.

"Selain itu, kita inginkan agar kegiatan keragaman budaya yang kita lakukan setiap tahun tidak hanya berhenti dari hasil seminar budaya, tetapi ada aksi yangg kita lahirkan, salah satunya melahirkan deklarasi ini," katanya.

Sehinggaa kata Pudentia, berbagai etnis yang ada di daerah itu, bisa melanjutkan kegiatan keragaman budaya itu dalam berbagai ivent atau kegiatan sosial.

Dokumen Deklarasi Kendari itu katanya, kemudian diserahkan kepada UNESKO PBB melalui perwakilannya yang hadir dalam kegiatan itu, sebagai salah satu warisan keragaman budaya Indonesia.

"Kita Ingin menunjukan kepada dunia dan memberikan pesan kepada dunia, bahwa melalui keragaman budaya yang ada maka bisa menciptakan keharmonisan hidup dalam mengarungi kehidupan ini," katanya.

Melalui Deklarasi Kendari ini, kata Pudentia, maka bisa menjadi tameng terjadinya konflik yang mengarah kepada etnis di daerah ini. Dengan menanamkan budaya bahwa kita adalah satu Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau