Kabut asap

Kebakaran Lahan di Jakabaring Belum Teratasi

Kompas.com - 10/09/2011, 04:27 WIB

Palembang, Kompas - Kebakaran lahan gambut di kawasan Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, masih terjadi hingga Jumat (9/9). Kebakaran lahan mengancam tempat tinggal warga dan mengganggu aktivitas pekerja arena SEA Games.

Kemarin, puluhan hektar lahan gambut di kawasan 15 Ulu, Jakabaring, terbakar. Kabut asap yang pekat mengganggu para pengendara yang melintasi Jalan Pangeran Ratu, Jakabaring. Jarak pandang hanya 5-8 meter karena kabut asap sangat pekat.

Menurut Kepala Pos Pemadam Kebakaran untuk Wilayah Jakabaring Arbones Rusman, beberapa pekan terakhir sering terjadi kebakaran lahan gambut dan rumah di Jakabaring. Bahkan, petugas pemadam kebakaran sering kewalahan mengatasinya. ”Sebab, dalam sehari bisa terjadi dua atau tiga kebakaran sekaligus,” ujarnya.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menegaskan, pelaku pembakaran lahan di Sumsel akan ditindak tegas. Perusahaan yang terbukti membakar atau mengakibatkan lahan terbakar akan dilarang beroperasi.

”Akan digelar operasi yustisia untuk memberantas pembakaran lahan. Pelaku akan diproses secara hukum dan perusahaan langsung ditutup,” katanya.

Kebakaran lahan dan hutan di Pulau Sumatera makin tidak terkendali. Peningkatan titik panas pada Jumat sudah mencapai 691 titik yang tersebar antara lain di Sumatera Selatan sebanyak 401 titik dan Riau 93 titik.

”Sekarang ini curah hujan sangat kecil terutama di Selatan khatulistiwa. Di bagian utara khatulistiwa, meski masih kemarau, curah hujan masih turun. Itu sebabnya kebakaran lahan di Dumai, Rokan Hilir, dan Bengkalis yang biasanya selalu terjadi pada musim kemarau saat ini tidak begitu terasa,” ujar Slamet Riadi, Staf Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Pekanbaru

Tiga hari terakhir terjadi peningkatan jumlah titik panas yang sangat signifikan. Dua hari lalu, jumlah titik api masih 120 titik, sehari kemudian meningkat menjadi 381 titik, dan kemudian naik lagi menjadi 691 titik.

Aktivitas pembakaran lahan di Jambi juga sulit dikendalikan. Meski pemerintah mengerahkan ratusan petugas pemadam, kebakaran lahan dan hutan semakin meluas. Jumlah titik panas melonjak menjadi 91 titik pada Jumat dibanding sehari sebelumnya yang hanya 12 titik.

Kemarin, citra Satelit NOAA menunjukkan titik api baru pada lahan mineral sebanyak 50 titik, tersebar di Kabupaten Tebo, Bungo, Sarolangun, dan Batanghari. Titik-titik panas berada dalam perkebunan milik warga dan diperkirakan muncul akibat aktivitas pembukaan lahan. Jarak pandang pun hanya 300 meter pada pukul 07.00, dan 1.200 meter pada pukul 10.00 WIB.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Tri Siswo mengatakan, gubernur, bupati, dan kepolisian telah mengeluarkan surat larang membakar lahan, tetapi praktik tersebut masih terus berlangsung. ”Penegakan hukum masih lemah.” ujar Siswo. (JON/IRE/SAH/ITA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau