Palembang, Kompas
Kemarin, puluhan hektar lahan gambut di kawasan 15 Ulu, Jakabaring, terbakar. Kabut asap yang pekat mengganggu para pengendara yang melintasi Jalan Pangeran Ratu, Jakabaring. Jarak pandang hanya 5-8 meter karena kabut asap sangat pekat.
Menurut Kepala Pos Pemadam Kebakaran untuk Wilayah Jakabaring Arbones Rusman, beberapa pekan terakhir sering terjadi kebakaran lahan gambut dan rumah di Jakabaring. Bahkan, petugas pemadam kebakaran sering kewalahan mengatasinya. ”Sebab, dalam sehari bisa terjadi dua atau tiga kebakaran sekaligus,” ujarnya.
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menegaskan, pelaku pembakaran lahan di Sumsel akan ditindak tegas. Perusahaan yang terbukti membakar atau mengakibatkan lahan terbakar akan dilarang beroperasi.
”Akan digelar operasi yustisia untuk memberantas pembakaran lahan. Pelaku akan diproses secara hukum dan perusahaan langsung ditutup,” katanya.
Kebakaran lahan dan hutan di Pulau Sumatera makin tidak terkendali. Peningkatan titik panas pada Jumat sudah mencapai 691 titik yang tersebar antara lain di Sumatera Selatan sebanyak 401 titik dan Riau 93 titik.
”Sekarang ini curah hujan sangat kecil terutama di Selatan khatulistiwa. Di bagian utara khatulistiwa, meski masih kemarau, curah hujan masih turun. Itu sebabnya kebakaran lahan di Dumai, Rokan Hilir, dan Bengkalis yang biasanya selalu terjadi pada musim kemarau saat ini tidak begitu terasa,” ujar Slamet Riadi, Staf Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Pekanbaru
Tiga hari terakhir terjadi peningkatan jumlah titik panas yang sangat signifikan. Dua hari lalu, jumlah titik api masih 120 titik, sehari kemudian meningkat menjadi 381 titik, dan kemudian naik lagi menjadi 691 titik.
Aktivitas pembakaran lahan di Jambi juga sulit dikendalikan. Meski pemerintah mengerahkan ratusan petugas pemadam, kebakaran lahan dan hutan semakin meluas. Jumlah titik panas melonjak menjadi 91 titik pada Jumat dibanding sehari sebelumnya yang hanya 12 titik.
Kemarin, citra Satelit NOAA menunjukkan titik api baru pada lahan mineral sebanyak 50 titik, tersebar di Kabupaten Tebo, Bungo, Sarolangun, dan Batanghari. Titik-titik panas berada dalam perkebunan milik warga dan diperkirakan muncul akibat aktivitas pembukaan lahan. Jarak pandang pun hanya 300 meter pada pukul 07.00, dan 1.200 meter pada pukul 10.00 WIB.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Tri Siswo mengatakan, gubernur, bupati, dan kepolisian telah mengeluarkan surat larang membakar lahan, tetapi praktik tersebut masih terus berlangsung. ”Penegakan hukum masih lemah.” ujar Siswo.