Butuh Investor Kembangkan Tanjung Lesung

Kompas.com - 11/09/2011, 09:36 WIB

BANTEN, KOMPAS.com - Pengelola kawasan Tanjung Lesung Resort di Banten menyatakan masih membutuhkan lebih banyak investor pariwisata untuk mengembangkan wilayah itu menjadi "resort world" yang diminati wisatawan.      Marketing Manager Banten West Java (BWJ) Development, Ivonne Ida Anggraeni, di Banten, Minggu (11/9/2011), mengatakan pihaknya sebagai pengelola kawasan Tanjung Lesung Resort masih membuka peluang investasi di bidang pariwisata serta pendukungnya.

"Kami mengelola dan mengembangkan wilayah Tanjung Lesung yang luas totalnya mencapai 1.500 hektar. Untuk itu, dibutuhkan lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya di sini," kata Ivonne.

Dari kawasan seluas itu, pihaknya yang telah mendapatkan izin pengembangan dari pemerintah sudah membangun dan membuka lahan sekitar 200 ha di antaranya menjadi kawasan resort pantai terpadu.

Kawasan wisata yang berjarak 180 km dari Jakarta tersebut menawarkan wisata pantai, eksplorasi keindahan bawah laut, keberagaman kuliner hingga keramahan penduduk asli; suku Badui.

"Di sini pengunjung juga dimungkinkan untuk menikmati suasana yang damai dan privat sehingga sangat sesuai sebagai tempat peristirahatan," katanya.       Daya tarik wisata di sekitar kawasan itu meliputi situs bersejarah area Banten Tua, pantai, budaya Badui dan permainan debus, pegunungan dan pemandian air panas, area konservasi (Ujung Kulon, Pulau Dua, dan Pulau Sangiang), danau, serta pemandangan Gunung Krakatau di Selat Sunda.

Menurut dia, potensi Tanjung Lesung ke depan sangat besar untuk dikembangkan menjadi semacam Resort World Sentosa Island di Singapura karena posisi dan daya dukungnya yang sesuai.

Apalagi kawasan yang terletak di wilayah Panimbang, Pandeglang, Banten itu telah dikategorikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus yang masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"Pemerintah sudah berencana untuk membangun sejumlah fasilitas yang berpotensi membuka akses perekonomian di sekitar Tanjung Lesung," katanya.

Siapkan infrastruktur

Beberapa infrastruktur yang sedang disiapkan di antaranya pembangunan jalan tol Serang-Panimbang (selesai 2015), pembangunan Bandara Banten Selatan (selesai 2015), hingga rencana pembangunan jembatan Selat Sunda.

Infrastruktur tersebut akan memungkinkan berkembangnya perekonomian di kawasan, di samping mempersingkat waktu tempuh dari Jakarta.

Saat ini, waktu tempuh ke Tanjung Lesung dari Jakarta melalui rute Serang Timur berkisar 3,5 jam (menggunakan mobil pribadi) dan 4-5 jam (menggunakan bus/kendaraan umum).

"Kawasan wisata Tanjung Lesung memiliki garis pantai 15 km dengan topografi yang beragam mulai dari hamparan pasir putih hingga karang-karangan. Ini memungkinkan pecinta surfing, diving, atau snorkling dapat menyalurkan hobinya di sini," katanya.

Saat ini beberapa fasilitas yang sudah dibangun dan dipasarkan di Tanjung Lesung Resort meliputi penginapan (Kalicaa Villa, Sailing Club dan Hotel), resort pantai (Beach Club), perumahan (Kalicaa Estate, Marina Apartment, Canal Lots), lapangan golf, restoran, hingga fasilitas outbond.

Selain itu, fasilitas hotel bintang empat-The Bay Villas, Blue Fish Hotel, hingga camping ground. Ke depan di kawasan itu direncanakan akan dibangun berbagai fasilitas pendukung meliputi marina, marina village, yacht club, ferry terminal, mega-yacht berths, hotel, pusat budaya, golf club, kondominium, sekolah, pemukiman, hingga student housing.       "Untuk itu kami masih mengundang lebih banyak investor untuk masuk," kata Ivonne.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau