Perempuan Indonesia Rentan Depresi

Kompas.com - 11/09/2011, 12:20 WIB

Oleh : Dr.Andri, SpKJ * Selama menangani pasien-pasien dengan keluhan psikosomatik, saya sering mendapati dasar diagnosis dari pasien-pasien dengan keluhan-keluhan fisik yang tidak jelas ini adalah gangguan cemas dan depresi. Hal lain yang saya amati adalah perempuan lebih sering mengalami depresi daripada cemas. Jika memang ada gejala cemasnya, biasanya pasien mengalami keluhan-keluhan depresi yang lebih dominan.

Hal ini tentunya bukan hal yang baru di dunia psikiatri. Menurut berbagai penelitian yang telah dibuat, perempuan memang lebih sering mengalami depresi dibandingkan dengan pria. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap hal ini telah diungkapkan.  Namun, rata-rata penelitian itu berbasis di komunitas negara-negara barat.

Saya mencoba menelaah dan memilah-milah sekiranya apa yang membuat perempuan Indonesia yang datang ke praktek lebih banyak mengalami depresi daripada gangguan kecemasan.

1. Hormonal

Sama seperti pada penelitian barat, perempuan Indonesia beberapa juga sangat terganggu dengan siklus hormonal bulanan yang sering juga berbarengan timbulnya dengan perubahan mood atau suasana perasaan yang tidak nyaman. Mereka biasanya mengalami kondisi tidak nyaman menjelang menstruasi dan selama menstruasi. Secara statistik memang perempuan di masa kehidupannya sejak fase pertama kali mens (menarche) sampai nanti setelah menopause akan cukup sering berkaitan dengan masalah mood terkait dengan fluktuatif hormonal.

2. Tuntutan Peran

Peran perempuan apalagi yang menikah sangat kompleks. Perempuan harus menjadi istri, ibu buat anaknya dan bahkan kadang “ibu” buat suaminya juga, juga seringkali menjadi orang yang diharapkan oleh keluarga perempuan untuk membantu. Kompleksitas peran ini membuat perempuan rentan stres. Apalagi jika ditambah dengan keinginan tetap mengaktualisasikaan diri yang malah seringkali terhambat. Penerimaan terhadap peran dan tuntutan di dalamnya yang bisa membantu perempuan mengatasi permasalahannya.

3. Konflik Rumah Tangga

Banyak kasus yang saya tangani terkait dengan konflik rumah tangga dan yang paling sering adalah perselingkuhan suami. Terkadang, hal ini ditambah dengan sikap sebagian masyarakat di sekitar lingkungan perempuan itu yang “memaklumi” perselingkuhan suami. Ini semakin menjadi beban yang berat untuk perempuan yang merasa diperlakukan tidak adil.

4. Anak bermasalah

Anak seringkali menjadi pemicu stres orang tua terutama ibu. Perempuan dalam rumah tangga seringkali diberikan tugas lebih banyak dalam mengurus anak dan ini membuatnya seringkali lebih rentan terhadap stres terutama dalam menghadapi anak-anaknya yang bermasalah. Peran suami dalam kondisi ini diharapkan dapat lebih membantu sehingga peran ibu menjadi lebih mudah.

Demikian sedikit hasil telaah saya terhadap kasus-kasus yang sering dialami perempuan yang mengalami depresi. Faktor-faktor lain mungkin saja terdapat dan mungkin menjadi faktor yang dominan buat masing-masing perempuan. Berempatilah dengan perempuan Indonesia ! Salam Sehat Jiwa.

* Psikiater Keminatan Psikosomatik Medis

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau