Pilot Vs Garuda Masih "Deadlock"

Kompas.com - 12/09/2011, 15:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mediasi antara Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan manajemen PT Garuda Indonesia Tbk belum menghasilkan kesepakatan kedua belah pihak alias masih deadlock.

Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (12/9/2011), Presiden APG, Capt Stephanus Gerardus Setitit, mengatakan, hingga batas waktu mediasi yang ditentukan, kedua pihak yang berseteru tidak menemukan kesepakatan apa pun.

Hal itu terjadi saat mediasi terakhir, yaitu tanggal 26 Agustus lalu. Stephanus kemudian meninggalkan ruangan pertemuan yang juga diikuti oleh Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia, Elisa Lumbantoruan.

Pertemuan APG dengan manajemen Garuda dilakukan secara intensif pada bulan puasa lalu, yaitu tanggal 15, 19, 22, 23, 24, 25, dan 26 Agustus 2011.

Pada tanggal 26 Agustus 2011, sebelum dilakukan perundingan, laporan yang didapat Stephanus bahwa belum adanya kata kesepakatan dari empat poin utama sebagaimana yang telah disepakati dalam perundingan pada tanggal 15 Agustus 2011. Bahkan, masih terjadi beda pendapat terkait masalah yang akan dibahas.

Hal ini tentunya sangat mengecewakan karena semua anggota APG sudah menunggu hasil perundingan tersebut.

Pada saat perundingan dimulai, menurut Stephanus, pihaknya menanyakan mengapa tidak ada kata kesepakatan permasalahan yang dibahas, khususnya masalah remunerasi. "Pertanyaan ini dijawab oleh Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia, Elisa Lumbantoruan, dengan kata-kata no way karena perusahaan tidak mempunyai dana yang cukup, namun setuju untuk melakukan perundingan terkait perubahan sistem tanpa menyebutkan dana yang disediakan," sebut Stephanus.

Stephanus menyatakan bahwa perubahan sistem penggajian tidaklah mungkin dapat diselesaikan dalam perundingan ini karena membutuhkan waktu yang panjang dan harus melalui proses uji coba, sedangkan hasil perundingan ini ditunggu oleh 600 pilot anggota APG.

Oleh karena itu, Stephanus menanyakan kembali hasil perundingan selama ini apakah dapat diterima ataukah tidak terkait permasalahan perubahan sistem dari 17 menjadi 10 layers yang diajukan oleh Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia, Elisa Lumbantoruan.

Pertanyaan tersebut, menurut Stephanus, kembali dijawab oleh Elisa, "No way." "Dan karena Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara sedang sakit sehingga tidak ada batas waktu dalam menyelesaikan masalah, APG merasa tidak perlu melanjutkan karena batas waktu yang disepakati telah selesai tanpa ada kesepakatan apa pun," sebut Stephanus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau