Dugaan korupsi

Dipertanyakan, Penanganan Kasus Dugaan Korupsi Pasar Alok

Kompas.com - 12/09/2011, 22:58 WIB

MAUMERE, KOMPAS.com - Penanganan kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Alok Tahun 2001-2006 senilai Rp 7,5 miliar di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, dipertanyakan. Sejak dilaporkan sejumlah elemen masyarakat ke Polres Sikka tahun 2006, sampai saat ini tak ada kemajuan dalam penanganannya .

"Kasus ini sudah dilaporkan ke polisi tahun 2006, sekarang sudah lima tahun, tapi mengapa sampai saat ini masih berkutat di penyelidikan," kata Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Wilayah NTT, Meridian Dewanta Dado, Senin (12/9/2011), yang dihubungi dari Ende, Flores.

Proyek Pasar Alok menjadi sorotan tajam masyarakat, karena pada masa Bupati Sikka Alexander Longginus, proyek  pelaksanaan pada tahun 2003 dan 2006 tanpa melalui proses tender. Proyek melalui penunjukan langsung (PL). Diduga pula dalam pelaksanaan proyek banyak yang tidak sesuai dengan spesifikasi, yang menyebabkan banyak terjadi kerusakan setelah dibangun.

Ketika dikonfirmasi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sikka, Ajun Komisaris Arif Sadikin, yang mengutip pernyataan Kepala Polres Sikka Ajun Komisaris Besar Ghiri Prawijaya, mengatakan, penyidik masih menunggu hasil audit dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTT, guna memastikan apakah ada kerugian negara dalam proyek tersebut.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau