Lily Tak Akan Minta Maaf ke Muhaimin

Kompas.com - 13/09/2011, 15:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lily Wahid, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menyatakan tidak akan meminta maaf kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi sekaligus Ketua Umum PKB Muhamin Iskandar terkait pernyataannya yang menyudutkan Muhaimin.

"Saya tidak akan minta maaf pada Muhaimin," kata Lily di Gedung DPR, Selasa (13/9/2011).

Menurut Lily, pernyataannya kepada wartawan yang menyebut suap di Kemennakertrans diduga mengalir ke Muhaimin serta istri hanya mengutip pemberitaan di media. "Saya hanya meminta maaf pada publik karena informasi yang saya sampaikan membingungkan publik," kata dia.

Ketika ditanya mengenai pernyataannya yang mempertanyakan asal-usul uang untuk membangun kantor DPP PKB di Jakarta, menurut Lily, tidak ada yang salah dengan pernyataannya itu.

"Saya rasa enggak mungkin PKB bisa ngumpulin uang puluhan miliar rupiah dalam dua tahun. Lha wong kita per bulan dipotong untuk partai Rp 12,5 juta. Jumlah kita (politikus PKB) juga cuma 28 orang. Makanya, saya tanya itu uang dari mana?" kata Lily.

Lily dilaporkan PKB ke Bareskrim Polri dengan sangkaan fitnah dan pencemaran nama baik Muhaimin dan istri serta PKB. Laporan itu disampaikan Lembaga Bantuan Hukum dan HAM PKB Minggu lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau