Ancaman krisis

BI: Pertumbuhan Ekonomi Bisa Terganggu

Kompas.com - 13/09/2011, 19:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono mengatakan, Indonesia dapat terkena dampak dari krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa saat ini. Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa berada di bawah target pemerintah pada tahun 2012.

"Kita mau lihat dampak langsung dari Eropa mungkin tidak akan terlalu besar. Tapi kita juga jangan terlalu lengah dengan hal-hal seperti itu karena bisa aja ada indirect impact-nya melalui negara-negara lain," ujar Hartadi seusai menghadiri Rapat Dengar Pendapat di DPR, Selasa (13/9/2011) sore.

Menurut Hartadi, Indonesia sudah merasakan dampak dari krisis di wilayah tersebut melalui pertumbuhan ekonomi yang melemah. Penurunan pertumbuhan ekonomi global, kata Hartadi, menyebabkan demand terhadap ekspor Indonesia juga menurun sehingga akan melemahkan konsumsi swasta. "Sehingga ada kecenderungan pertumbuhan ekonomi kita melemah bahkan di bawah target pemerintah yang 6,7 persen," ujar Hartadi.

Meski demikian, Hartadi menyatakan optimistis terhadap peluang Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7 persen. Hal ini dapat dicapai apabila pemerintah berkonsentrasi pada kegiatan ekonomi di dalam negeri, termasuk juga menambah stimulus, khususnya fiskal.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau