Kemarau Bisa Picu Penyakit

Kompas.com - 14/09/2011, 06:39 WIB

Jakarta, kompas - Musim kemarau di wilayah Jakarta dan sekitarnya mencapai puncaknya. Panas terik dan kering yang terjadi ini bisa memicu munculnya sejumlah penyakit. Ketahanan air bersih, terutama di permukiman kumuh, juga perlu diperhitungkan oleh pemerintah.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus-September 2011. Selama tujuh pekan terakhir ini, hampir tidak ada hujan deras mengguyur Jakarta.

Cuaca yang selalu panas terik dan kering ini, kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Hakim Siregar, Selasa (13/9), bisa memicu empat wabah penyakit berbahaya. ”Keempat penyakit tersebut adalah diare, demam berdarah, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit kulit,” ujarnya.

Sebelumnya, Hari Tirtodjatmiko dari BMKG mengatakan, kawasan Pulau Jawa, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), memang masih dalam masa puncak musim kemarau. ”Saat ini kondisi Jabodetabek cenderung kering. Kelembaban rendah di bawah 50 persen. Suhu rata-rata 31-33 derajat celsius,” kata Hari.

Peringkat teratas

ISPA menduduki peringkat teratas penyakit sepanjang musim kemarau tahun ini di Jakarta Barat. Data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat menunjukkan, sejak Januari hingga Agustus 2011, tercatat setidaknya 248.168 orang mengalami ISPA.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Parwathi mengatakan, cuaca panas dan kering disertai embusan angin menyebabkan debu beterbangan dan mudah terisap. ”ISPA tersebar hampir merata di seluruh wilayah Jakarta Barat,” katanya.

Para korban kebakaran, seperti di Kecamatan Tambora, juga berpotensi mengalami ISPA. Abu dan debu bekas kebakaran, di tambah lokasi penampungan korban yang berada di tepi jalan, membuat mereka rentan terhadap ISPA. Mengenakan masker atau pelindung lainnya sangat dianjurkan untuk mengurangi potensi ISPA.

Data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan menunjukkan, untuk kasus ISPA, sepanjang Januari sampai pertengahan September, anak balita penderita pneumonia sebanyak 3.612 orang dan pasien batuk bukan pneumonia sebanyak 57.603 anak.

Pasien diare, selama periode waktu tersebut, tercatat ada 18.964 orang dan pasien demam berdarah ada 1.010 orang.

Direktur Medik dan Keperawatan RS Fatmawati Lia G Partakusuma mengingatkan warga Ibu Kota agar banyak minum air putih serta makan buah dan sayur. ”Minum air putih 1,5 liter, apalagi saat panas begini,” katanya.

Pemerintah perlu bantu air

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Kedokteran Komunitas dan Keluarga Universitas Indonesia Firman Lubis mengatakan, ISPA hanya satu dari sejumlah penyakit yang rawan pada musim kemarau. ”Air bersih juga langka di sejumlah wilayah. Akibatnya, berbagai penyakit muncul, mulai dari sakit kulit, diare, hingga dehidrasi,” kata Firman.

Di sejumlah wilayah, warga menggunakan air seadanya untuk mencukupi kebutuhan mereka, mulai dari minum, mandi, hingga mencuci. Firman berharap pemerintah setempat bisa memetakan kebutuhan air bersih di wilayah mereka dan membantu pengadaan air bersih, terutama di permukiman kumuh.

Terkait air untuk dikonsumsi, saat ini, warga di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, juga sudah cukup sulit mendapatkan air bersih karena sumur kering.

”Kekurangan air bersih dan saluran sanitasi yang tidak baik bisa membahayakan kesehatan. Sebaiknya setiap keluarga mempersiapkan sebaik mungkin cadangan air bersih untuk memasak dan minum, apalagi untuk konsumsi anak balita dan anak- anak,” kata Hakim.

Awasi makanan anak

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Yenuarti Suaizi menyatakan, diare juga mudah menjangkiti anak-anak. Dia menyarankan orangtua mengawasi jenis makanan yang dikonsumsi anak dan menjaga kebersihan. Kebiasaan anak mencuci tangan sebelum makan sangat penting.

”Air minum isi ulang pun diupayakan dimasak sebelum diminum,” kata Yenuarti.

Kepala Subbidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Banten Dendi menyerukan warganya untuk menggunakan masker atau penutup hidung, terutama saat berada di kawasan yang berdebu. ”Apabila terhirup, bakteri dan virus pada debu yang beterbangan dapat memicu infeksi pada saluran pernapasan,” kata Dendi.

Terjangkit tidaknya ISPA juga sangat tergantung dari ketahanan tubuh. Selain istirahat cukup, warga juga perlu meningkatkan ketahanan tubuhnya dengan mengonsumsi vitamin C, yang antara lain terdapat pada buah- buahan. Kebugaran warga diperlukan agar tubuh tahan menghadapi fluktuasi suhu pada musim kemarau.

(NEL/COK/FRO/ART/CAS)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau