Jalur Ekspedisi Cincin Api "Kompas"

Kompas.com - 14/09/2011, 22:16 WIB

1. Tambora
Gunung di Pulau Sumbawa, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, ini meletus pada April 1815 yang dikenal sebagai "The Largest Volcanic Eruption in History" (letusan terbesar yang tercatat dalam sejarah). Lebih dari 71.000 orang meninggal dan terjadi perubahan iklim, dan masa itu sering disebut juga tahun tanpa musim panas.

2. Toba, Sibayak, Sinabung, dan Tarutung (patahan gempa)
Gunung-gunung api dan sesar tektonik di Sumatera Utara. Gunung api super-Toba diperkirakan meletus 74.000 tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera dan Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengah-tengahnya. Letusan ini memicu gelombang tsunami.

3. Krakatau
Gunung api di Selat Sunda ini meletus dahsyat pada Agustus 1883. Lebih dari 36.000 orang meninggal dan letusan ini memicu gelombang tsunami.

4. Agung, Batur, dan Rinjani
Antara spiritualitas dan rasionalitas, mencari folklor lokal terkait gunung berapi. Di Bali dan Lombok, gunung menjadi pusat orientasi budaya dan agama. Bagaimana pengaruhnya terhadap mitigasi bencana?

5. Jawa Timur: Gunung Semeru, Penaggungan, Bromo, Ijen, dan Kelud
Berdampingan hidup dengan bencana. Kawah Ijen pada zaman dulu telah menjadi sumber belerang dan bahan amunisi. Sebaliknya, kini Kawah Ijen menyimpan bahaya besar. Bibir kawah yang menyimpan jutaan asam sulfat dikhawatirkan runtuh, dan kebocoran sebenarnya sudah terjadi, menyebabkan peracunan pada tanah pertanian.

Sementara itu, Bromo adalah pusat spiritual masyarakat Jawa, selain juga pusat pariwisata. Bagaimana masyarakat bisa berdampingan dengan bencana?

6. Jawa Tengah: Merapi, Merbabu, Lawu, Sindoro, Sumbing, Dieng
Pralaya dan pergeseran peradaban akibat letusan gunung api. Letusan Merapi diperkirakan menjadi penyebab bergesernya Mataram Kuno ke wilayah timur. Merapi juga menjadi contoh ujian nyata manajemen bencana modern dalam berhadapan dengan sikap budaya lokal yang sering kali bertabrakan.

7. Jawa Barat: Tangkuban Perahu, Salak, Papandayan, Galunggung
Berkah kesuburan tanah Parahyangan di balik ancaman bencana. Letusan Salak pernah berdampak besar terhadap Jakarta.

8. Kerinci, Dempo, Merapi, Sorik
Gunung para dewa dan konsepsi kisah orang pendek. Gunung Kerinci adalah juga gunung api tertinggi di Indonesia, yang memiliki keindahan, tetapi juga memiliki potensi bencana sangat besar.

9. Rokatenda, Egon, Lewo Tobi, tsunami di Ende dan Larantuka

Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah contoh ekstrem kepulauan yang dibentuk oleh jajaran gunung berapi, yang berpengaruh terhadap keringnya geografi di daerah ini. Selain itu, tsunami juga berkali-kali menerjang. Bagaimana kearifan lokal masyarakat terhadap bencana ini?

10. Sangihe, Ambon, Ibu, Soputan
Hampir mirip dengan NTT, kepulauan Ambon (Ambonia) juga tersusun dari banyak gunung berapi aktif, sekaligus berada di area penghunjaman aktif yang sering terdampak gempa dan tsunami. Bahkan, catatan paling tua tentang tsunami di Indonesia terjadi di Ambon, dicatat oleh Rumphius.

11. Sesar darat: Liwa-Padang-Aceh dan Palu
Sesar darat Sumatera termasuk yang paling aktif di dunia. Sayangnya, hingga kini belum ada pemetaan bencana. Banyak jalur sesar yang diduga masih menjadi permukiman. Demikian juga di Palu, hal yang sama pun terjadi.

12. Mentawai, Nias, Simeulue
Pulau-pulau di batas benua. Ketiga pulau ini berada di titik terluar garis benua, yang paling sering dilanda gempa besar dan berpotensi besar tsunami sepanjang sejarah. Masyarakat di sana memiliki kearifan lokal dan budaya yang sangat terkait dengan gempa dan tsunami, tetapi kini banyak yang telah hilang.

Sumber: Litbang Kompas, diolah dari Bakosurtanal, Lapan, ESDM, PVMBG, Gis: Rustiono

Baca liputan ekspedisi di harian Kompas tanggal 15, 16, dan 17 September 2011.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau