Antisipasi lahar dingin

Warga Mulai Membuat Saluran Air

Kompas.com - 14/09/2011, 22:20 WIB

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Menghadapi musim penghujan, warga di kawasan lereng Gunung Merapi mulai bergotong-royong mengantisipasi ancaman lahar dingin dengan membuat saluran-saluran air menuju ke sungai. Hal ini untuk mencegah meluapnya aliran lahar hingga ke pem ukiman penduduk pada saat terjadi hujan deras.  

 

Warga di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan misalnya, mereka telah membuat tiga saluran air atau sudetan menuju ke Sungai Gendol. Pekerjaan ini dilakukan secara gotong royong.  

 

"Kalau tidak dibuat saluran, maka air hujan yang membawa material vulkanik akan mengalir liar dan merusak kampung-kampung yang dilalui," kata Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto, Rabu (14/9/2011) di Yogyakarta.  

 

Sebanyak 8 kepala dukuh di seluruh Desa Kepuharjo telah diperintahkan untuk menggerakkan warga membuat saluran-saluran air. Mereka juga memperbaiki gorong-gorong yang buntu di seluruh kampung.  

 

Meski telah tinggal di hunian sementara (huntara), warga Dusun Kaliadem, Jambu, dan Petung juga bergotong-royong menata saluran irigasi di b ekas pemukiman mereka yang telah rusak diterjang awan panas Merapi. Hal ini mereka lakukan agar aliran lahar dingin tidak merusak kawasan pemukiman di daerah bawah yang tak terimbas erupsi.  

 

Tujuh sudetan  

 

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Air dan Mineral Ka bupaten Sleman Widi Sutikno mengatakan, sebanyak tujuh sudetan atau saluran air menuju Kali Gendol akan dibuat di sekitar Kecamatan Cangkringan. Ketujuh sudetan terletak di Desa Glagaharjo, Argomulyo, Wukirsari, dan Kepuharjo.  

 

"Pembuatan sudetan ini untuk mengarahkan aliran lahar ke Kali Gendol sehingga tidak merusak pemukiman serta infrastruktur," ucapnya.  

 

Sementara itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta juga menghimbau warga di sekitar lereng Merapi agar mengantisipasi terjadinya penyimpangan aliran lahar dingin di lima sungai yang berhulu di Gunung Merapi.  

 

Saat hujan lebat, warga harus mengantisipasi adanya penyimpangan-penyimpangan aliran lahar (lahar dingin), khususnya di belokan-belokan sungai yang di b aliknya terdapat kampung. Sebab, sifat lahar cenderung mencari lintasan terpendek dan selalu mencari titik-titik paling rendah, kata Kepala BPPTK Subandriyo.  

 

Menurut Subandriyo, pada saat terjadi hujan deras akan terjadi perubahan pola aliran sungai. Sun gai yang membawa material padat cenderung bergerak lurus dan tidak mengikuti aliran sungai yang berkelok-kelok sehingga akan merusak apapun yang dilalui, termasuk pemukiman dan infrastruktur umum.  

 

Penyimpangan aliran lahar potensial terjadi di lima sunga i, yaitu Kali Putih, Kali Pabelan, Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong. Timbunan material vulkanik terbanyak berada di Kali Gendol karena mencapai 30 persen dari total material vulkanik yang dimuntahkan Merapi sebanyak 140 juta meter kubik, ujarnya.  

 

Musim hujan lalu, penyimpangan aliran lahar dingin terjadi di Kali Putih dan menerjang pemukiman di daerah Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Magelang. Sementara itu, aliran lahar dingin di Kali Pabelan yang berasal dari tiga sungai (Apu, Trising, dan Senowo) juga merobohkan Jembatan Pabelan dan ratusan rumah di sepanjang sungai itu.  

 

Untuk mengantisipasi hal ini, BPPTK menginstruksikan kepada masyarakat agar mengamati sejumlah titik yang berpeluang meng alami penyimpangan aliran lahar. Pengamatan dilakukan saat muncul banjir lahar dingin skala kecil di awal musim penghujan. Selain itu, warga juga dihimbau mengoptimalkan pemanfaatan alat-alat komunikasi handy talky (HT). 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau