Infrastruktur transportasi bali

Pembangunan Jalan Bawah Tanah Terkendala Lahan

Kompas.com - 14/09/2011, 22:25 WIB

BADUNG, KOMPAS.com -  Pembangunan jalan bawah tanah di kawasan Simpang Dewa Ruci, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, masih terkendala lahan.

Jika tetap ditargetkan untuk melancarkan kegiatan Asia Pasific Economic Cooperation Summit pada November 2013, proses pembebasan lahan ini harus selesai paling lambat Oktober 2011.

"Pembangunan fisik berlangsung selama 18 bulan. Jadi kalau dimulai Oktober 2011, proyek ini diperkirakan akan selesai April 2013," kata Ketua Panitia Pengadaan Tanah Jalan Bawah Tanah Dewa Ruci Ida Bagus Yoga Segara, Rabu (14/9/2011) di Kuta.

Proyek ini membutuhkan dana sekitar Rp 280 miliar dari pemerintah pusat.

Padahal negosiasi ganti rugi pembebasan lahan baru dimulai di Kantor Camat Kuta, Rabu siang. Dari 29 pemilik lahan yang terimbas proyek itu, baru tiga pemilik lahan yang mengikuti negosiasi pertama, dengan jumlah lahan total 1.015 meter persegi. Sementara total lahan yang dibutuhkan dalam proyek ini seluas 54,74 are at au sekitar 5.474 meter persegi.

Negosiasi pertama itu pun belum mencapai kesepakatan harga. Ganti rugi yang diberikan kepada pemilik lahan ditawarkan mulai dari harga Rp 700 juta per 100 meter persegi.

"Kami mendukung proyek ini, tetapi kami juga minta waktu seminggu untuk memikirkan besar ganti rugi," kata Made Sudana, salah satu pemilik lahan.

Yoga mengakui, proses negosiasi ini tidak mudah dan akan membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu, pihaknya segera mempercepat jadwal negosiasi dengan pemilik lahan lainnya. "Memang sulit jika harus selesai Oktober tahun ini, tapi mudah-mudahan bisa", katanya.

Berdasarkan catatan Kompas, pembangunan fisik jalan bawah tanah ini semula ditargetkan mulai Juli 2011. Namun, tahapan proses pembebasan lahan yang panjang menyebabkan pembangunan fisik itu tertunda sampai sekarang.

Jalan bawah tanah ini memiliki panjang 450 meter, lebar 14 meter, dan kedalaman 5 meter. Jalan bawah tanah ini untuk dipakai kendaraan dari arah Nusa Dua menuju ke Jalan Sunset Road.

Kawasan Simpang Dewa Ruci ini selalu macet, karena menjadi pertemuan arus kendaraan dari arah Nusa Dua, Kuta, dan Sanur.

Pakar transportasi dari Universitas Udayana, I Gusti Putu Suparsa, mengatakan, pada jam sibuk kendaraan di kawasan itu hanya melaju kurang dari 10 kilometer (km) per jam. Padahal, kecepatan ideal di perkotaan 40 km per jam.

"Jalan bawah tanah ini akan cukup efektif mengurai kemacetan, ujar Suparsa. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau