JAKARTA, KOMPAS.com - Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan sejak seminggu belakangan. Bahkan, semakin hari intensitas kabut semakin pekat.
Kabut asap di Sumatera Barat yang diduga juga berasal dari asap kebakaran lahan gambut di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Riau, dan Bengkulu, mulai dirasakan dampak negatifnya oleh masyarakat.
"Khusus di Sumatera, saat ini terdapat sekitar 200 titik api. Sekitar 70 persen titik api di antaranya berada di Sumatera Selatan," ujar Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKS, Rofi' Munawar, di Jakarta, Kamis (15/9/2011).
Rofi' Munawar memandang, kebakaran lahan khususnya lahan gambut tidak bisa dianggap sederhana, karena kebakaran lahan gambut memiliki keunikan potensi eksisting kebakaran di lapisan bawah gambut yang masih harus tetap diwaspadai.
Kebakaran lahan atau hutan gambut jika tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, bisa jadi akan menggagalkan target penurunan emisi karbon sebesar 26 persen pada tahun 2020 seperti yang dijanjikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kebakaran gambut selain mengganggu aktivitas masyarakat, juga memiliki resiko bahaya yang lebih tinggi, karena gambut menyimpan cadangan karbon, sehingga bila terjadi kebakaran maka akan terjadi emisi gas karbondioksida dalam jumlah besar. Sebagai gas rumah kaca, karbondioksida yang dihasilkan akan berdampak pada pemanasan global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang