Yuk, Jelajah Gedung-gedung Tua Jakarta

Kompas.com - 16/09/2011, 19:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komunitas Jelajah Budaya kembali menggelar acara jelajah Kotatua. Wisata sejarah kali ini akan menapak tilas Oud Batavia-Molenvliet-Weltevreden. Perkembangan kota Jakarta berawal dari sebuah kawasan yang saat ini dikenal dengan Kotatua Jakarta (Oud Batavia). Perlahan namun pasti pusat pemerintahan kota akhirnya berpindah ke selatan.

Tokoh pengerak perpindahan salah satunya adalah Gubernur Jenderal VOC Reiner de Klerk yang mendirikan vila mewahnya di luar tembok kota Batavia. Kini rumah tersebut dikenal sebagai gedung Arsip Nasional. Setelah itu gagasan untuk memindahkan kota semakin santer ketika berbagai macam penyakit melanda warga Batavia yang tingal di dalam tembok Batavia.

Atas pimpinan Gubernur Jenderal Daendels, akhirnya pada tahun 1809 pusat pemerintahan dipindahkan ke selatan yang menurutnya udaranya masih bagus. Selain itu, dari segi militer akan lebih aman dari penyerangan arah laut.

Selain memindahkan kota, berbagai material bangunan benteng yang masih bisa digunakan ikut dibongkar dan dibangun kembali di tempat yang baru tersebut. Sejak saat itu, berbagai pembangunan dilakukan di sekitar Weltvreden. Daendels berharap kota yang dibangun kelak memiliki bangunan yang megah dan bagus.

Bila kita telusuri bangunan yang berada di sekitar Lapangan Monas dan sekitarnya terdapat bangunan bersejarah yang saat ini masih digunakan oleh kantor pemerintahan. Sebut saja Istana Negara, Istana Merdeka, Balai Kota Jakarta, Kantor PLN, Gedung Perhubungan, Museum Nasional, dan lain-lain.

Gedung-gedung tersebut merupakan peninggalan masa lalu yang hingga kini masih terawat baik. Jika Anda tertarik untuk menjelajahi gedung-gedung tersebut dalam ikut bergabung di acara Jelajah Kota Toea yang diselenggarakan pada Minggu, (25/9/2011) pada pukul 7.30 WIB berkumpul di Museum Mandiri, Jakarta.

Rute yang akan dilewati para peserta mulai dari Glodokplein, Candranaya, Gedung Arsip, Masjid Kebun Jeruk, Harmoni, Patung Hermes, Istana Negara, Lapangan IKADA, Museum Nasional. Karena akan berkunjung ke lingkungan Istana Kepresidenan, maka peserta perlu mematuhi berbagai aturan. Peserta yang ingin berpartisipasi dikenakan biaya Rp 35.000. Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung menghubungi Komunitas Jelajah Budaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau