Garam impor

Sebuah Gudang Garam Disegel

Kompas.com - 16/09/2011, 21:41 WIB

PAMEKASAN, KOMPAS.com — Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menyegel lagi sebuah gudang garam impor milik PT Budiono Madura Bangun Persada, di Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur. Gudang itu diduga menyimpan garam impor sebanyak 21.000 ton.

Penggeledahan melibatkan aparat satuan polisi pamong praja, Jumat (16/9/2011) siang. Penggeledahan juga disaksikan Bupati Pamekasan Kholilurrahman, anggota Komisi IV DPR Ian Siagian, dan Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagio, serta beberapa pejabat kementerian kelautan dan perikanan (KKP) dan pejabat Bea dan Cukai.

Setelah dibongkar, di gudang itu tersimpan garam impor asal India dengan kualitas rendah. Fadel mengemukakan, masuknya garam impor asal India sangat menyakiti hati petani garam yang sedang panen. Kualitas garam itu juga terindikasi lebih rendah ketimbang kualitas garam rakyat.

Bupati Pamekasan Kholilurrahman mengemukakan, "Ada indikasi garam itu baru dipindahkan ke gudang beberapa hari ini. Ini menimbulkan kejanggalan," ujarnya.

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP Syahrin Abdurrahman mengemukakan, gudang garam itu sudah diawasi oleh aparatnya sejak pekan lalu. "Penahanan dilakukan agar tidak mengganggu panen garam rakyat yang kini sedang berlangsung," ujar Syahrin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau