Sepak bola sea games

Riedl Bisa Menjadi Lawan Indonesia

Kompas.com - 17/09/2011, 05:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pelatih asal Austria, Alfred Riedl, bisa menjadi lawan timnas Indonesia di SEA Games XXVI/2011. Dia memutuskan bergabung dengan Laos sebagai direktur timnas negeri itu sebelum dinaikkan menjadi pelatih kepala per Januari 2012. Dia menandatangani kontrak tiga tahun sebagai pelatih kepala timnas Laos, yang menangani timnas senior dan timnas U-23, akhir Oktober.

”Mulai Oktober hingga berakhirnya SEA Games, saya menjadi supervisor atau direktur teknik guna membantu Laos di SEA Games,” kata Riedl dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (16/9). Riedl dipecat dalam kepengurusan PSSI baru pimpinan Djohar Arifin Husin, yang menilai kontrak pelatih berusia 61 tahun itu bermasalah.

Jika mengacu pelaksanaan cabang sepak bola SEA Games 2009, yakni tim-tim peserta dibagi ke dalam dua grup, kepastian apakah Riedl, selaku Direktur Timnas Laos, bakal jadi lawan Indonesia di SEA Games menunggu hasil drawing.

Di SEA Games 2009, Laos yang saat itu ditangani Riedl memukul Indonesia 2-0. Kekalahan saat PSSI dipimpin Nurdin Halid itu menjadi salah satu titik nadir pencapaian timnas sepak bola. Tidak lama setelah kekalahan itu, Riedl digaet PSSI melatih Indonesia. Dia membawa timnas ke final Piala AFF 2010.

Riedl mengungkapkan, dia akan resmi menandatangani kontrak dengan Federasi Sepak Bola Laos akhir Oktober. Riedl menyebutkan, nilai kontraknya sebagai direktur timnas Laos sama dengan nilai kontrak saat jadi pelatih Indonesia. Seperti pernah diungkapkan asistennya, Wolfgang Pikal, saat dikontrak PSSI pada era Nurdin Halid, Riedl

dibayar 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 127,9 juta per bulan.

”Kehidupan di Laos, bagi saya, lebih baik daripada di Jakarta. Itu kota kecil yang tidak terlalu ramai,” ujar Riedl.

”Dalam hal olahraga, negara itu butuh waktu lama, sekitar 10-15 tahun, untuk mengejar ketertinggalan. Secara keolahragaan, Indonesia jauh lebih tinggi.”

Dia berpendapat, sepak Indonesia seharusnya fokus terlebih dahulu untuk menjadi nomor satu di Asia Tenggara. Jika itu tercapai, tahapan berikutnya mengejar ketertinggalan di Asia, lalu dunia. Namun, fokus tersebut sering kali terbentur pada ekspektasi publik yang terlalu tinggi.

Serahkan urusan ke FIFA

Terkait persoalannya dengan PSSI, ia menyatakan telah menyerahkan semuanya pada Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA). FIFA mengirimkan surat berisi permintaan penjelasan pada PSSI dengan menetapkan batas waktu 12 September lalu.

”Saya tidak ingin bertemu dan bicara dengan PSSI karena telah melaporkan perkara ini pada FIFA. Untuk apa bicara dengan mereka?” lanjut Riedl.

Dalam jumpa pers itu, Riedl didampingi mantan Direktur Teknik Badan Tim Nasional (BTN) PSSI Iman Arif. Pikal juga hadir, tetapi tidak ikut mendampinginya dalam jumpa pers.

(SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau