SLEMAN, KOMPAS.com — Warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus mewaspadai kemungkinan ancaman banjir lahar dingin pada musim hujan Oktober mendatang. Hujan deras akan membawa material vulkanik dari letusan gunung yang masih tersisa di lereng-lereng gunung.
"Kami harapkan masyarakat siaga dan waspada ancaman banjir lahar dingin karena musim hujan pertengahan Oktober ini berpotensi longsor material vulkanik yang ada di lereng Merapi," kata Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Urip Bahagian, Minggu (18/9/2011) di Sleman.
Urip mengatakan, selain waspada terhadap ancaman lahar dingin, kesiapsiagaan juga dilakukan dengan tidak menggerus atau mengambil timbunan pasir atau material yang berfungsi sebagai tanggul di kiri dan kanan aliran sungai.
"Tumpukan material tersebut difungsikan sebagai penahan untuk antisipasi lahar dingin. Selain itu bronjong-bronjong yang sudah dipasang harus dirawat dan diperhatikan agar tidak rusak," katanya.
Ia mengatakan, antisipasi banjir lahar dingin terdiri dari dua langkah, yakni normalisasi aliran sungai dan kesiapsiagaan masyarakat. Normalisasi sungai sudah dilakukan sejak material memenuhi sungai-sungai yang berhulu Merapi, seperti Sungai Gendol, Opak, Kuning, dan Boyong.
Kesiapsiagaan masyarakat juga sudah dilatih, baik melalui sosialisasi maupun simulasi penanggulangan dan penanganan bencana yang dilakukan beberapa waktu lalu. Urip mengatakan, pengalaman banjir lahar dingin yang menerjang beberapa waktu lalu harus menjadikan masyarakat lebih siap, terutama untuk penyelamatan diri.
"Kami berharap agar masyarakat yang berada di pinggirian sungai mulai menata pertahanan agar material dari lahar dingin tidak masuk ke permukiman penduduk," ujarnya. Jika hujan dianggap deras dan berpotensi menyebabkan banjir lahar dingin, masyarakat harus segera menyelamatkan diri.
Urip menyatakan, BPBD Sleman dan BPBD Propinsi DIY akan melakukan koordinasi dengan masyarakat yang berada di wilayah banjir untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan. Koordinasi ini akan dilakukan mulai dari kecamatan hingga desa dan dusun di kawasan yang diprediksi rawan banjir lahar dingin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang