Presiden Datang, Hujan Buatan Segera Dilakukan

Kompas.com - 18/09/2011, 20:13 WIB

JAMBI, KOMPAS.com - Meskipun kabut asap di Kota Jambi sudah berkurang, bahkan titik api sudah tidak ditemukan lagi, namun rencana hujan buatan tetap dilakukan pada Senin (19/9/2011).

"Tetap akan dilaksanakan, usulannya sudah disetujui Kemenhut terkait kedatangan Presiden RI. Direncanakan tanggal 19 September hujan itu akan digelar," kata Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Jambi, Hasvia, Minggu (18/9/2011).

Tetap dilakukan hujan buatan tersebut, menurut Hasvia dikarenakan terkait kunjungan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan dari tiga provinsi yang mengajukan hujan buatan, Jambi lebih didahulukan.

"Ada tiga Provinsi yang mengajukan, yakni Riau, Palembang dan Jambi tapi kita lebih di prioritaskan karena akan ada kunjungan presiden," jelasnya.

Hujan buatan yang akan dilakukan ini, akan dilakukan di tiga titik lokasi, yakni di Kota Jambi, Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Ketiga lokasi ini dipilih karena terjadi banyak kebakaran yang menyebabkan kepulan asap sehingga menggangu jarak pandang.

Diperkirakan akan ada tiga pesawat terbang yang akan dipersiapkan kementerian kehutanan untuk menyirami tiga wilayah tersebut. Ini seperti yang dilakukan di Sumatera Selatan (Sumsel). "Jika Palembang itu tiga pesawat, kemungkinan pesawat itu juga yang akan dipergunakan untuk melakukan hujan buatan," katanya.

Teknik pembuatan hujan buatan sendiri, yakni menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) sehingga partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun. Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol.

Awan Cumulus terjadi karena proses konveksi. Nantinya, tiga pesawat yang sudah disiapkan diterbangkan untuk menyemai atau menyirami awan cumulus. Setelah itu tinggal menunggu hasilnya.

Soal biaya yang mencapai Rp 700 juta, lanjut Hasvia tetap akan ditanggung oleh Kemenhut. Sehingga walapun hujan biasa tetap turun, hujan buatan tidak masalah tetap dilaksanakan. "Yang menanggung biayanya Kemenhut, keseluruhan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau