Beton Tua Penyebab Jalan Ambles di Pluit

Kompas.com - 18/09/2011, 21:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Novizal menuturkan, penyebab amblesnya Jalan Pluit Raya dikarenakan beton yang sudah tua dan tak mampu lagi menahan beban. Akibatnya, jalanan itu pun ambles dan berlubang hingga sedalam 1,5 meter dengan lebar 1 meter.

”Kemungkinan penyebabnya karena gorong-gorong atau busi beton tersebut sudah cukup tua sehingga sudah lelah atau fatique menahan beban lalu lintas,” kata Novizal dalam pesan singkat yang diterima Kompas.com, Minggu (18/9/2011).

Ia menuturkan jalan yang sering dilalui angkutan berat itu sudah dibangun sejak tahun 1970-an. Pada masa itu, pembuatan saluran masih memakai tipe gorong-gorong yang berbentuk bulat.

”Sekarang untuk crossing saluran tidak pernah pakai tipe gorong-gorong (bulat) lagi tetapi tipe box culvert (kotak),” tutur Novizal.

Ia melanjutkan, agar jalan itu kembali seperti semula, pihaknya sudah menurunkan petugas dari Dinas PU DKI Jakarta. Diperkirakan perbaikan jalan itu memakan waktu 2-3 minggu. ”Kami usahakan perbaikan tersebut selesai secepatnya. Paling tidak umur pengeringan beton sekitar 2-3 mingguan,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau