Kain songket

Pakaian Raja Jadi Maskot SEA Games

Kompas.com - 19/09/2011, 03:10 WIB

Ratusan tahun silam, kain songket khas Melayu jadi simbol status sosial raja Kesultanan Palembang dan para kerabatnya. Songket diwariskan pula dari kegemilangan Kerajaan Sriwijaya dengan Palembang sebagai pusat kotanya.

Zaman berganti, sisa kejayaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang nyaris tidak tersisa. Tidak ada satu pun bangunan berupa keraton, baik dari Kerajaan Sriwijaya maupun Kesultanan Palembang, yang utuh tersisa untuk dinapak tilas.

Songket pun tidak lagi diidentikkan dengan strata sosial bangsawan. Namun, sisa-sisa warisan kebudayaan besar di tepi Sungai Musi ini masih bertahan. Tengok saja di kawasan perajin songket di 30 Ilir, Tangga Buntung, Palembang.

Di rumah-rumah panggung berusia ratusan tahun di wilayah ini tersimpan tradisi membuat kain songket. Di pinggir Jalan Kiranggo Wirosantiko berjajar gerai-gerai mewah dan modern yang menjajakan songket. Sebuah citra dari perpaduan modern dan tradisional.

Songket tidak lagi identik dengan kemewahan, tetapi representasi seni budaya yang indah. Asalkan mau dan mampu, kini setiap orang bisa mengenakan kain songket. Tak lagi dilarang seperti dahulu. Namun, prosesnya yang sulit sehingga harga songket masih terbilang tinggi.

Satu helai kain songket 200 x 90 sentimeter dihargai Rp 1 juta-Rp 5 juta sesuai dengan bahan dan kualitas. Bahkan, ada yang harganya Rp 10 juta per lembar. ”Membuat songket butuh waktu lama. Satu kain bisa butuh tiga bulan dan bahannya seperti benang emas. Jadi, biayanya tinggi,” ucap Hasan (43), Manajer Operasional Fikri Collection, toko songket di 30 Ilir.

Itu sebabnya tak mudah pula menjual songket. Dalam sebulan terjual 15-20 lembar. Ada pula yang tak lebih dari 5 buah.

Datangnya SEA Games memberi gairah dan optimisme baru bagi perajin songket. Segelintir perajin bahkan rela berutang atau menjual asetnya untuk menambah modal sambil berharap ”kecipratan” rezeki SEA Games.

Ansori, misalnya, rela menjual tanah warisan dan berutang ke bank senilai Rp 500 juta untuk mengisi penuh stok songket di gerainya. ”Produksi sudah diperbanyak, stok (songket) siap. Mudah-mudahan saat SEA Games banyak dibeli,” ujarnya.

Promosi songket pada SEA Games dilakukan dengan beragam cara. Pemprov Sumsel melakukan lewat Modo-Modi, maskot SEA Games. Modo mengenakan baju koko dengan tanjak (hiasan kepala pria) dan kain songket serta Modi memakai baju simbar dan kain songket. Pengenaan songket pada Modo- Modi adalah improvisasi Pemprov Sumsel untuk lebih memberikan ciri khas Sumsel sebagai tuan rumah SEA Games. (jon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau