SPI Sumbar Gelar Pentas Budaya Petani

Kompas.com - 20/09/2011, 14:03 WIB

PADANG, KOMPAS.com--Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Barat akan menggelar Pentas Budaya Petani dalam rangkaian peringatan Hari Tani Nasional ke-51 pada 24 September 2011.

"Pentas Budaya Petani akan digelar di Taman Budaya Sumbar di Jalan Diponegoro Padang pada 24 September 2011 mulai pukul 09.00 WIB," jelas ketua pelaksana peringatan Hari Tani Nasional Sukardi Bendang di Padang, Senin.

Ia mengatakan, acara tersebut akan mengangkat tema revitalisasi budaya pertanian berbasis lokal untuk kesejahteraan masyarakat di Sumbar. Tujuannya adalah untuk membangun pemahaman tentang revitalisasi budaya pertanian berbasis lokal ke berbagai pihak untuk kedaulatan pangan di daerah itu.

Ia menjelaskan, Pentas Budaya Petani dilatarbelakangi oleh pertanian sebagai sektor vital di Sumbar baik secara ekonomi, sosial maupun kultural.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumbar 2010, sebanyak 60,8 persen dari 4,8 juta lebih penduduk di daerah itu hidup di sektor pertanian dan budi daya pangan, terutama padi sebagai penopang utama.

Meski produksi beras di Sumbar sejak 2007 hingga 2011 terus mengalami peningkatan, namun produksi beras secara nasional justru mengalami penurunan.

Pada 2007 produksi beras di Sumbar sebesar 1,93 juta ton, meningkat menjadi 1,96 juta ton pada 2008 dan meningkat lagi pada 2009 menjadi 2,1 juta ton serta pada 2010 sebesar 2,21 ton. Untuk 2011 ditargetkan sebesar 2,26 juta ton.

Sementara surplus secara nasional menurun dari 6,7 persen pada 2009 menjadi 1,17 persen pada 2010.

Di sisi lain, dalam konteks yang lebih praktis terutama di dalam masyarakat adat Minangkabau hidup sistem pengolahan pertanian yang menjamin kedaulatan atas pangan baik itu dalam konteks penataan lahan proses produksi, distribusi maupun konsumsi.

Praktik-praktik lokal tersebut secara lebih luas telah menopang Indonesia selama ini sebagai negara agraris dan salah satu lumbung pangan dunia.

Namun sayangnya kebijakan pertanian yang dijalankan terutama sejak rezim Orde Baru menggunakan pendekatan lain dalam sektor pertanian, yaitu lebih ditopang oleh pertanian berbasis modal besar, katanya.

"Acara itu juga diharapkan dapat menggalang dukungan pemerintah dan para pihak terhadap pembangunan pertanian berbasis lokal," tambah Sukardi.

Dalam acara tersebut nantinya akan ditampilkan bentuk kegiatan seperti orasi budaya, teaterikal dan diskusi interaktif yang memunculkan pandangan yang sama terhadap kondisi pertanian hari ini dan harapan di masa datang.

Nantinya acara Pentas Budaya Petani tersebut melibatkan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Q-Bar, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) serta Pemerintah Provinsi Sumbar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau