Ketua asean

Marty Akan Temui Aung San Suu Kyi

Kompas.com - 21/09/2011, 02:51 WIB

NEW YORK, SENIN - ASEAN akan meminta pendapat aktivis prodemokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, sebelum memutuskan apakah negara tersebut sudah berada di jalur yang benar untuk mendapat giliran memimpin ASEAN tahun 2014 nanti.

   Demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa kepada wartawan Associated Press (AP) di New York, AS, Senin (19/9). Indonesia tahun ini mendapat giliran sebagai Ketua ASEAN.

Menurut Marty, ia akan berkunjung ke Myanmar pada bulan Oktober terkait keinginan negara itu menjadi Ketua ASEAN. Menurut Marty, Myanmar sangat bersemangat untuk memimpin Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara ini dan kepercayaan yang diberikan kepada Myanmar itu diharapkan bisa menjadi pendorong reformasi demokrasi di negara itu.

”Saya sangat ingin mendengar suara masyarakat sipil, terutama suara Daw Aung San Suu Kyi, (tentang) apakah ini akan mempunyai dampak turunan, sebuah efek pendorong dalam mempercepat laju perubahan (di Myanmar),” tutur Marty, yang berada di New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Belum diketahui kapan ASEAN akan memutuskan jadi atau tidaknya Myanmar menjadi ketua. Namun, diduga kuat keputusan ini akan dibuat saat konferensi tingkat tinggi ASEAN di Bali, November mendatang.

Marty juga menambahkan, pengalaman Indonesia melakukan transformasi dari rezim otoriter ke negara demokrasi dalam waktu hanya 10 tahun bisa menjadi salah satu referensi yang bisa dipelajari Myanmar. ”Kami punya titik acuan. Kami dengan senang hati akan berbagi berbagai pelajaran yang kami dapatkan (selama proses reformasi) kepada teman-teman kami di Myanmar,” ungkapnya.

Terkait dengan peran Indonesia sebagai Ketua ASEAN dalam memelihara perdamaian di kawasan, Marty mengatakan, dengan hubungan baik yang dimiliki Indonesia dengan seluruh negara di kawasan—termasuk AS dan China—Indonesia bisa mencegah timbulnya perseteruan yang berbahaya. ”Kami berusaha menanamkan beberapa prinsip di kawasan ini dan mencegah kompetisi gaya Perang Dingin baru,” tandasnya.

Mulai membuka diri

Suu Kyi sendiri mengakui, perubahan politik mulai sungguh- sungguh terjadi di Myanmar. Dalam wawancara dengan kantor berita Agence France Presse (AFP) pekan lalu, Suu Kyi mengatakan, pemerintahan baru di Myanmar saat ini terlihat tulus dan sungguh-sungguh ingin melakukan reformasi demokratis.

Meski demikian, Suu Kyi mengakui, rakyat Myanmar masih jauh dari kebebasan sejati. ”Mulai ada perubahan, tetapi menurut saya, belum semua dari kami telah bebas, atau benar-benar bebas. Jalan masih panjang, tetapi saya pikir telah terjadi berbagai perkembangan positif,” tutur Suu Kyi di kantor partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), di Yangon.

Setelah hampir 50 tahun berada di bawah pemerintahan tangan besi oleh militer, pihak junta militer pada Maret lalu akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil hasil pemilu tahun lalu. Banyak pihak pada awalnya pesimistis dengan perubahan ini mengingat partai pemenang pemilu adalah partai bentukan militer, dan presiden Myanmar saat ini, Thein Sein, adalah seorang pensiunan jenderal.

Akan tetapi, pemerintahan baru ini kemudian menunjukkan tanda-tanda membuka diri. Setelah membebaskan Suu Kyi dari tahanan rumah selama tujuh tahun, pemerintah juga mengizinkan aktivis prodemokrasi itu berkunjung ke luar Yangon untuk menemui para pendukungnya. Bulan lalu, Presiden Thein Sein bahkan mengundang Suu Kyi ke kediaman resminya di ibu kota Myanmar yang baru, Naypyidaw. (AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau