Prestasi

Mahasiswa Bidik Misi IPB Raih Prestasi Internasional

Kompas.com - 21/09/2011, 10:42 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor dari keluarga kurang mampu yang ikut program Bidik Misi (beasiswa pendidikan bagi mahasiswa berprestasi) menorehkan prestasi internasional. Kepala Bidang Humas dan Protokol IPB Henny Windarti mengungkapkan, dari tujuh mahasiswa IPB yang mengikuti "Call for Paper" pada International Conference on Environmental Engineering and Aplications (ICEEA) 2011 di Shanghai, China, tiga di antaranya adalah mahasiswa penerima Bidik Misi tersebut.

"Prestasi itu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi seseorang tidak terpengaruh terhadap prestasi dan impiah untuk meraih kesuksesan," kata Henny di Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/9/2011).

Hevi Metalika Aprilia, mahasiswa penerima Bidik Misi  mengaku masih belum percaya bahwa dia baru saja pulang dari luar negeri. "Dulu, saya bahkan tidak berani bermimpi untuk sekedar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, banyak yang mendukung saya, sehingga hanya dengan modal keberanian dan semangat yang tinggi saya mendaftar ke IPB," katanya.

"Alhamdulillah, Bidik Misi hadir sebagai jawaban atas doa-doa saya kepada-Nya. Begitu sampai di kampus ini pun, saya masih begitu takut untuk bermimpi. Jangankan mengikuti perlombaan skala internasional, yang skala nasional saja tidak pernah terpikirkan," tambah Hevi.

Namun, kata dia, semua berjalan sesuai kehendak-Nya, asal mau tekun berusaha dan berdoa, sehingga hal-hal luar biasa yang tidak pernah terpikirkan pun bisa datang begitu saja.

"Subhanallah, bahkan Dia (Tuhan) memberi apa yang tidak kita pinta. Mulai sekarang, saya selalu berani bermimpi tentang apapun. Setinggi-tingginya," kata mahasiswi asal Tuban, Jawa Timur ini.     Adapun, Azfar Reza Muqafa, penerima Bidik Misi lainnya mengaku sudah optimistis dari awal tentang impian-impiannya.

"Kemampuan seseorang tidak pernah dibatasi oleh fisik ataupun materi, kedua hal itu akan mempengaruhi diri kita untuk tidak memaksimalkan kemampuan yang ada. Karena setiap orang telah diciptakan Allah SWT dengan segala potensi dan kelebihannya masing-masing, yang Insya Allah semuanya memiliki manfaat yang luar biasa," katanya.     Menurut Henny Windarti, dengan adanya prestasi tersebut, diharapkan mampu memicu semangat mahasiswa untuk bisa lebih berprestasi di bidangnya. Ia mengatakan, faktor ekonomi sudah tak bisa lagi dijadikan alasan untuk tidak mampu meraih prestasi dan mimpi.

"Justru, orang-orang dengan latar belakang ketidakmampuan pada finansial biasanya memiliki semangat dan impian yang lebih tinggi untuk bisa maju. Yang terpenting adalah niat dan semangat," katanya.

Bidik Misi dari keluarga kurang mampu merupakan salah satu program pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mulai tahun 2010 dalam rangka peningkatan pemerataan akses ke perguruan tinggi jenjang pendidikan menengah yang terdiri atas lulusan SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat.

Beasiswa ini diberikan sejak calon mahasiswa dinyatakan diterima di perguruan tinggi selama delapan semester untuk program Diploma IV dan S1, dan selama enam semester untuk program Diploma III dengan ketentuan penerima berstatus mahasiswa aktif. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau