Pengiriman perdana komoditas rumput laut yang merupakan salah satu komoditas unggul di Sulawesi Selatan ini dilakukan pada Rabu (21/9). Diharapkan pengiriman rumput laut tersebut akan terus meningkat dari 84 ton menjadi 180 ton (setara 15 kontainer kapasitas 12 ton).
Menurut Direktur Utama Perusahaan Daerah (Perusda) Harris Hody, suplai rumput laut ke pihak eksportir, yakni PT Gumindo Perkasa Industri di Jakarta, terwujud atas kerja sama Perusda Sulsel dengan pasar fisik komoditas, PT iPasar Indonesia.
Upaya Perusda menggandeng PT iPasar Indonesia untuk menjamin ketersediaan pasar dan harga jual dasar bagi pembudidaya rumput laut. ”Kerja sama ini bertujuan mengurangi kebergantungan petani rumput laut pada tengkulak,” kata Harris.
Untuk memenuhi permintaan eksportir, dalam dua bulan terakhir, Perusda bekerja sama dengan sekitar 100 pedagang pengumpul di sentra penghasil rumput laut, seperti Luwu, Pinrang, Bulukumba, Bantaeng, dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Para pedagang pengumpul bertanggung jawab membina petani agar mengeringkan hasil panen rumput laut.
Perusda dan iPasar membeli rumput laut seharga Rp 10.200 per kilogram (kg), jauh di atas harga pasar saat ini Rp 6.500-Rp 7.500 per kg. ”Di dalam kontrak, PT Gumindo meminta sebanyak-banyaknya rumput laut kering dari Sulsel,” ujarnya.
Perusda memiliki kelompok nelayan binaan yang tersebar di sepanjang Pantai Luwu hingga Bon yang mampu mengolah hasil panen rumput laut sesuai standar eksportir.
Komisaris Utama PT iPasar Indonesia Adi Sasono menjelaskan, mekanisme pengiriman rumput laut juga telah diterapkan di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah. Langkah itu efektif membantu petani dalam penyediaan pasar dan harga jual.
Menurut Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf Latief, dari potensi lahan seluas 600.000 hektar di sepanjang 1.937 kilometer garis pantai, baru sekitar 30 persen yang tergarap.
Selain rumput laut, Pemprov Sulsel kini juga menyiapkan ekspor sayur-mayur dan ikan laut ke Singapura. Sebanyak 1,5 ton produk itu akan dikirim perdana pada 26 September mendatang.
Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Sulsel Irman Yasin Limpo, pengiriman dilakukan bertahap hingga 20 ton sesuai kesepakatan dengan pengelola Bandara Changi dan Garuda Indonesia beberapa waktu lalu.