Periksa pimpinan banggar

KPK Dituding Tidak Adil

Kompas.com - 23/09/2011, 16:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi dituding bersikap tidak adil, bahkan sporadis, terkait dengan pemeriksaan seluruh pimpinan Badan Anggaran DPR sebagai saksi kasus di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Tudingan itu dilontarkan Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua DPR, di Kompleks DPR, Jumat (23/9/2011), menanggapi pemeriksaan empat pemimpin Banggar, yakni Melchias Markus Mekeng, Mirwan Amir, Olly Dondokambey, dan Tamsil Linrung.

Menurut Priyo, jika ingin mengetahui mengenai kebijakan dalam pembahasan anggaran di Banggar, KPK seharusnya juga memeriksa unsur pemerintah yang terlibat dalam pembahasan.

"Itu baru adil," kata dia.

Jika KPK mempermasalahkan kebijakan, menurut Priyo, hal itu akan berkaitan dengan Presiden dan pimpinan DPR yang menyetujui kebijakan itu.

"Apakah juga harus kemudian dipanggil untuk hal-hal kebijakan seperti itu?" ujar politisi Partai Golkar ini.

"Dengan seluruh kewenangannya, KPK memang berhak memanggil siapa saja. Namun, tolong juga ada unsur kehatian-hatian, jangan terkesan kemudian semua menjadi heboh. Jadi, KPK sporadis memanggil semua (pimpinan Banggar) terhadap masalah ini," tutur Priyo.

Priyo mengatakan, DPR tidak akan mempermasalahkan jika KPK memeriksa anggota yang diduga terlibat mafia anggaran. "Namun, kalau masalah kebijkan, semuanya tidak akan mau. Ini tugas konstitusi melaksanakan itu," katanya.

Seperti diberitakan, pimpinan Banggar mengambil keputusan mengembalikan mandat yang diberikan kepada pimpinan DPR setelah pemeriksaan di KPK. Mereka meminta pimpinan DPR melakukan pertemuan dengan Ketua KPK, Kepala Polri, dan Jaksa Agung untuk membahas masalah pemeriksaan.

Rencananya, pimpinan DPR akan melakukan pertemuan internal sebelum memanggil para petinggi lembaga penegak hukum itu. Priyo memerkirakan pertemuan bisa digelar pada pekan depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau